Menu

Mode Gelap

Humaniora · 18 Feb 2022 ·

Menghina Budaya


 Menghina Budaya Perbesar

SUNANGUNUNGDJATI.COM- Tak ada orang dihukum karena menghina budaya, yang adalah menghina orang (menyebut nama), menghina nabi, agama, kitab suci atau Tuhan. Lain kata, hinaan atau kritik pada budaya itu bukan masalah hukum, tapi persoalan faktual: benar tidaknya. Hukum itu untuk manusia, bukan untuk budaya. Seseorang (manusia) dihina bisa lapor ke polisi karena tak terima merasa dirugikan, kalau budaya? Siapa yang melapor? Budaya itu bukan manusia.

Kalau budaya wayang dihina, ada yang tersinggung dan akan lapor ke polisi atau akan diperkarakan hukum, maka sebagai delik aduan, yang lapor ke polisi atau datang ke Bareskrim itu harus Gatotkaca, Arjuna, atau ngabring Pandawa Lima: Semar, Gareng, Petruk, Dawala dan si Cepot. Karena lucu dan suka nyeleneh, yang lapor ke polisi atas penghinaan budaya wayang, gak akan jauh pasti si Cepot.

Menghina orang pun, sebagai komunitas atau tidak menyebut nama individu, bukanlah masalah hukum dan tak bisa kena hukum, apalagi menghina budaya. Misalnya, budaya Jawa itu munafik, budaya Sunda itu pemalas, budaya sinkretis kejawen itu syirik dan
sesat, budaya Baduy itu kuno, budaya Melayu itu rendah diri, budaya Indonesia itu korupsi, budaya Cina itu mendompleng kekuasaan, budaya kulit putih itu rasialis, budaya Barat itu free-sex, budaya umat Islam itu konflik internal dan lemah persatuan dst, adakah yang tersinggung dan melapor ke polisi?

Hinaan, perendahan (under-estimate, pejorasi), klaim atau judgement, terhadap budaya sudah biasa diucapkan sebagai kritik. Jadi yang tepat bukan hinaan tapi kritik. Bila kritiknya benar, maka reaksi penduduk atau komunitas budaya itu, mengakuinya, malu direndahkan, introspeksi atau merubah diri. Bila kritik atau hinaan itu salah, akan ada bela diri dengan konter pemikiran, sanggahan, koreksi, klarifikasi.

Terjadilah diskusi dan perdebatan untuk lebih memahami budaya secara tepat dan mendalam. Bahkan bisa menjadi studi dan penelitian untuk menguji secara akademik sebuah kritik atas budaya. Tak ada hubungannya dengan hukum dan polisi. Hukum itu menangani orang yang dirugikan, polisi itu memelihara keamanan dan memberantas kejahatan.

Bila aduan ke polisi atas penghinaan budaya diterima dan diproses hukum, maka itu pasti di negari wayang. Bila aduannya ditolak tak diterima, yang melapor harus belajar lagi dan banyak piknik.***

Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Alumni The Australian National University Canberra.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

Bikin Geger Kesultanan Cirebon, Kisah Putra Sunan Gunung Jati Pangeran Jaya Kelana

28 Desember 2022 - 10:00

Inilah Kebiasaan Soekarno saat Kunjungi Masjid Sunan Gunung Jati Garmini yang tak Diketahui

14 Desember 2022 - 14:42

Ngalap Berkah, 3 Makam Keramat di Cirebon yang Selalu Ramai Didatangi Peziarah

13 Desember 2022 - 15:02

Pengukuhan Guru Besar: Moderasi Beragama, Wewekas dan Ipat-Ipat Sunan Gunung Djati

9 Desember 2022 - 14:18

Menarsiskan Diri.

8 April 2022 - 15:53

Yang Tetap dan Tak Berubah

23 Maret 2022 - 15:14

Trending di Humaniora