Islam Sunda sebagai Gerakan Napak Tilas Rute Perjalanan dan Penerus Dakwah Walisanga di Nusantara

Lagi viral soal pelecehan Bahasa Sunda oleh seorang politisi PDIP, Arteria Dahlan, dan menimbulkan reaksi marak dari masyarakat Sunda. Saya menurunkan tulisan berikut ini tentang keunggulam relasi Sunda dan Islam untuk menjadi kebanggaan urang Sunda.
__________

Islam Sunda sebagai Gerakan Napak Tilas Rute Perjalanan dan Penerus Dakwah Walisanga di Nusantara

Artikel Terkait

Proses islamisasi di Nusantara, di Tanah Jawa khususnya, dirintis dan diperjuangkan oleh parawali yang dikenal dengan walisanga (sembilan wali). Gerakan mereka berlangsung pada kurun abad ke-15-16. Gerakan islamisasi atau dakwah mereka dikenal menggunakan metode yang brilian yaitu gerakan dakwah kultural yang lentur mengadopsi nilai-nilai, kultur dan tradisi lokal sehingga Islam berhasil diterima masyarakat Nusantara. Atas jasa mereka, sejak abad ke-17, di kepulauan Nusantara mayoritas menganut Islam. Oleh masih maraknya praktek sinkretisme hingga pertengahan abad ke-20, ada yang mengatakan bahwa gerakan dakwah walisangan sebenarnya belum selesai. Memang, tidak ada istilah ‘selesai’ dalam dakwah atau islamisasi.

Dakwah Islam Sunda adalah gerakan dakwah penerus dan pelengkap dari apa yang telah dirintis dan dikembangkan parawali atau walisanga di Tanah Jawa. Gerakan penerus walisongo ini akan berpusat di Tanah Sunda seperti disimbolkan dalam 5 kata berikut ini: Sande, Sendu, Sandi, Sanda, Sunda, yang diambil dari Kitab Paradigma Hikmah Lima, yang bukan hasil pemikiran, tapi sebagai informasi spiritual, yang saya tulis sejak tahun 2000 dari penuturan Mursyid Syekh Endang Somalia.
___________

1. Sande
(Medan dakwahnya luas)

Dalam bahasa Sunda ada istilah sandékala yang artinya senjakala atau sore hari menjelang matahari tenggelam. Matahari muncul di timur dan tenggelam di barat. Artinya, peredaran matahari itu jauh dari ujung timur ke ujung barat. Ini simbol medan dakwah walisanga yang juga luas dan jauh, dari ujung timur Pulau Jawa hingga ke ujung barat saat tenggelamnya matahari di sandékala. Tidak hanya di Jawa, dakwah walisongo juga sekepulauan Nusantara bahkan hingga ke Cina. Masyarakat Jawa yang sebelumnya menganut Hindu-Budha diislamkan selama kurun tiga abad (dari abad ke-14 hingga abad ke-17). Di Jawa Barat, atau di Tatar Sunda, Islam masuk melalui Cirebon dengan tokohnya Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Djati. Dari Kerajaan Demak, islamisasi masuk ke Cirebon, menyebar ke Batavia dan Banten kemudian masuk ke pedalaman menundukkan Kerajaan Sunda yaitu Pakuan Pajajaran di Bogor sehingga akhirnya Islam menjadi agama mayoritas di Tanah Sunda. Sebelum masuk ke Jawa Barat, Islam sudah menyebar di sepanjang pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Setelah berdirinya Kerajaan Islam Demak hingga keruntuhan Kerajaan Majapahit tahun 1527, Islam semakin kuat dengan institusi politiknya. Pada masa Kerajaan Mataram, perluasan Islam diteruskan oleh Sultan Agung (1613-1646) sehingga menguasai hampir seluruh Tanah Jawa. Intinya, parawali Jawa telah menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Tanah Jawa hingga umat Islam menjadi mayoritas menggantikan agama Hindu-Budha yang berakar ratusan tahun di Nusantara. Dakwah Islam Sunda memiliki tugas untuk meneruskan perjuangan parawali tersebut sebagai napak tilas atas perjalanan mereka, membangkitkan kembali semangat ajaran parawali dan meneruskan dakwah yang sudah dirintis mereka pada masa silam.

2. Sendu
(Metodenya lentur dan bijaksana)

Sendu adalah ekspresi wajah yang sedih, pilu dan berduka dengan suara lembut. Maksudnya disini adalah kelembutan, tidak keras, brutal dan kaku. Metode dakwah parawali dikenal lembut dan lentur. Parawali dikenal lembut dan bijaksana dalam proses mengajak penduduk pribumi kepada Islam. Dakwah walisanga dikenal mengagumkan karena dengan pedekatan kultural, Islam bisa masuk ke dalam kebudayaan masyarakat setempat dan mempengaruhi simbol-simbol kebudayaan masyarakat Jawa-Sunda sehingga mereka menerimanya. Islamisasi di Nusantara oleh parawali dikenal dengan pendekatan damai, lentur, tidak frontal, tidak dengan penindasan dan kekerasan politik sehingga menghasilkan akulturasi budaya yang unik. Pendekatan kultural tidak langsung menghapus, melarang dan membabat akar-akar budaya lokal melainkan mengisinya dan mempengaruhinya dengan simbol-simbol dan ruh Islam dengan melalui jalur-jalur seni, budaya, pendidikan dan pernikahan dengan penduduk lokal. Wayang, musik gamelan, sakaten dan tradisi-tradisi Islam Jawa adalah peninggalan metode dakwah parawali. Inilah metode sendu. Metode inilah yang semestinya diteruskan oleh gerakan dakwah Islam Sunda sebagai kelanjutan atau penerus walisanga di Jawa. Seruan dakwah tidak dengan kekerasan dan paksaan seperti diingatkan Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (An-Nahl: 125).

3. Sandi
(Bahasanya simbolis penuh sandi)

Gerakan dakwah Islam Sunda menggunakan bahasa-bahasa simbol sebagai sandi. Ajarannya adalah nasehat-nasehat untuk umat manusia yang didasari oleh ilmu yang sangat luas. Ilmu hikmah termasuk yang berkembang di Sunda itu unik karena penuh dengan sandi-sandi dalam bentuk ungkapan-ungkapan dan bahasa simbol. Misalnya tulisan ini yang berpola khas lima, bunyi istilahnya mengandung nuansa sastra yang kental, ungkapan bahasanya sangat kaya dan mengandung makna yang luas dan mendalam.

4. Sanda
(Tempat sandaran dan penampungan)

Dakwah Islam yang kutural dan lentur akan menjadi sanda yaitu sandaran. Gerakan dakwah harus jadi tempat menampung orang-orang yang bermasalah, yang memiliki persoalan yang harus dibantu dan dipecahkan. Dakwah Islam harus menjadi sandaran masyarakat Indonesia dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan umat. Setelah itu umat Islam ditingkatkan kesadaran dan kualitas hidupnya sehingga tercipta sebuah jama’ah dan umat yang berkualitas dan maju. Umat yang memiliki kesadaran hidup tinggi dan keberagamaan yang kuat ini dibangun untuk mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negara yang baik dibawah limpahan ampunan Tuhan).

5. Sunda
(Berpusat di Sunda)

Yang disebut wilayah Sunda dahulu adalah kepulauan Sunda besar yang meliputi pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Jadi, Sunda sebenarnya adalah wilayah Nusantara. Nusantara itu Sunda. Wilayah Sunda sebagai daerah yang penting dan menjadi pusat dakwah nasional selama ini sangat mewarnai perjalanan Islam Indonesia. Dulu, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Djati adalah wali (ulama) dan raja/sultan (umara).

Ulama-ulama Sunda, dari abad ke-15 hingga abad ke-20, banyak yang menjadi ulama nasional bahkan dunia. Untuk menyebut beberapa yang paling menonjolnya misalnya dari Syekh Syarif Hidayatullah (1448 – 1568), ke Syekh Abdul Muhyi (1650 – 1730), ke hingga Syekh Nawawi Al-Bantani (1813 – 1897), Haji Hasan Mustapa (1852 – 1930), KH. Ahmad Sanusi (1888 – 1950) hingga ke masa modern abad ke-20, KH. Abdullah bin Nuh (1905 – 1985), KH. Anwar Musaddad (1909 – 1999), KH. Ilyas Ruhiyat (1934 – 2007), KH. Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin (1915-2011). Banyak sekali kalau harus disebutkan. 20 tahun belakangan ini, banyak ulama dan da’i nasional lahir dari tanah Sunda: Dr. Ary Ginanjar Agustian ESQ, KH. Abdullah Gymnastiar, Ustadz Prof. Adi Hidayat dst.

Sunda adalah pusat Nusantara. Nusantara adalah Sunda. Islam Indonesia pun akan berpusat di Sunda. Sesuai wilayahnya yang dulu selalu menyandang banyak kebesaran, sejarah Sunda pun adalah sejarah kebesaran: (1) kepulauan Sunda besar yang meliputi Nusantara, yang (2) peradaban kontinental, peradaban tertua di dunia, berada di perairan laut Sunda besar, diperkuat lagi oleh ditemukannya (3) Situs Gunung Padang di Cianjur (berusia 12.000-13.000 tahun SM). Di masa modern pun, Sunda adalah tempat lahirnya ulama-ulama besar, nasional dan dunia, Maka, Islam ke depan pun akan bangkit dan berpusat di tanah Sunda. Allah rabbul ‘alamin akan mengebalikannya lagi. Sunda Empire yang mengakui sebagai kekuasan dunia? Silahkan hubungkan saja sendiri. Wallahu a’lam.***

 

Moeflich Hasbullah, Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button