Aku, Mahasiswa dan Proses Kreatif Menulis

Wahyudin Darmalaksana, Kelas Menulis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

SUNANGUNUNGDJATI.COM-Ada mahasiswa hendak menyusun skripsi. Ia bermaksud menulis topik tertentu.

Artikel Terkait

Aku berusaha mendengarkan. Biar aku mengerti maksud yang diinginkanya. Agar aku tidak membelokan tujuan menurut keinginanku. Jika sudah ditemukan kesepemahaman, maka aku berjalan bergandengan. Mahasiswa menggapai tujuan dan aku membimbing sampai sukses.

“Silakan buat proposal,” kataku.

Proposal ditulis bertahap. Dikirim ke email secara bertahap pula. Mengapa bertahap. Karena sukses itu pasti melalui tahapan.

Lalu, aku membacanya detail. Bahkan, hingga proposal itu telah tuntas. Dan ini berlaku untuk semua mahasiswa.

Mula pertama aku menyoroti kerapian. Sejak menulis proposal, aku merasa penulis mesti memperhatikan kerapian, seperti margin, spasi, layout, dan kesalahan-kesalahan teknis pengetikan. Bisa jadi kerapian dipandang hal spele. Tetapi bagiku bukan hal spele. Bila terdapat kesalahan-kesalahan teknis penulisan, maka akan sangat menganggu. Aku kerap merasa bosan untuk memeriksa bila tulisan banyak kesalahan tekis pengetikan.

Selanjutnya, aku melihat bagaimana mereka menuangkan ide ke dalam bentuk penuturan kalimat. Di sini, pada umumnya tidak ada masalah berarti. Sebab, penulis bisa mengambil dari sumber rujukan dengan cara mencantumkan kutipannya dan cara ini dibenarkan.

Masalah yang masih sering terjadi adalah ketika penulis mengambil dari sumber rujukan yang dituturkan dengan cara, pertama, memparaphrase dan, kedua, dengan cara meringkas yaitu mengambil inti pikiran dari sumber rujukan itu.

Kedua cara itu juga dibenarkan sejauh mencantumkan sumber rujukannya. Masalah yang kerap timbul dari dua cara ini di antaranya kurang rapi, suka ada ide yang terpotong, dan tidak mencantumkan sumber rujukan. Ide terpotong maksudnya kalimat tidak lengkap (belum tuntas), sulit dipahami, dan berpaling dari maksud pikiran. Ide terpotong ini mesti dibetulkan agar tidak mengganggu jalannya pikiran.

Sering dijumpai ada kalimat yang aku mengerti maksud penulis tetapi kurang tepat ketika ia menuturkannya di dalam sebuah kalimat. Cara mengatasi hal ini adalah baca ulang kalimat tersebut untuk dipertimbangkan hingga mewakili maksud pikiran. Sebaiknya gunakan bahasa sederhana, yaitu bahasa yang mudah dipahami pembaca.

Berikutnya, satu paragraf ialah satu adegan (gagasan). Tapi masalah ini aku tidak terlalu memasalahkan sebab menulis hanya satu gagasan dalam satu paragraf merupakan kesulitan umum bagi penulis profesional sekalipun. Paling hal yang kuperhatikan ialah kesaling terhubungan di antara kalimat di dalam sebuah paragraf.

Terkadang dijumpai pula ada kalimat yang terlalu panjang. Tanpa dibatasi jeda oleh koma dan jauh ke titik berhenti. Kerap juga dijumpai pengulangan. Dimana kalimatnya itu-itu juga disebutkan di awal, di tengah, dan di akhir.

Selain hal-hal di atas, masih sering dijumpai hal menarik. Seperti penuturan latar belakang, kerangka berpikir, tinjauan pustaka, dan metodologi penelitian. Akan tetapi, hal ini semua bisa diatasi melalui bimbingan intensif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button