Kierkegaard

- Editorial Team

Minggu, 27 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUNANGUNUNGDJATI.COM-Di usia 20 tahunan karir intelektualnya sudah meroket. Ia mapan dan berkecukupan. Tapi rupanya hidup bukan melulu garis lempang, nihil tanjakan dan kejutan. Di balik kesuksesan dan kemapanan, dikisahkan pula cerita duka, derita bahkan pernah putus asa akibat “kasih tak sampai”.

Pemikirannya boleh saja tajam dalam menganalisa “cara berada” manusia tapi pada saat yang sama justeru tumpul menaklukan bahkan mempersunting wanita pujaan yang dikasihinya. Duduk di pelaminan hanya tinggal impian. Berbulan madu di awan biru hanyalah lamunan yang menyesakkan.

Penderitaan yang hebat, luka dan keputusasannya yang berat telah “memaksa” dirinya untuk “beruzlah” menjadi sosok penyendiri di sebuah apartemen. Menjauh dari kehidupan ramai bertekun dalan kesunyian.

Di tengah kesendirian akibat perasaan terluka dan kecewa, dia malah disergap grapomania yang “menitahkan” pikirannya untuk tak boleh kalah menyerah. Penderitaan, sakit hati juga keputusasaan yang dialaminya seumpama “blessing indisguise” bagi tangannya untuk terus menulis dan menulis.

Dalam hitungan tahun ia sukses melahirkan banyak manuskrip yang merentang dari tema filsafat, autobiografi, cerita fiksi bahkan khotbah agama. Seluruh manuskrip yang dibuatnya ini kemudian membentuk matrik dan mazhab pemikiran yang khas dalam dunia filsafat tentang keberadaan manusia: Eksistensialisme.

“Tdak ada satu manusia pun yang tidak pernah putus asa,” begitu kilahnya. “Kalau ada orang yang mengatakan tidak pernah, maka itu merupakan sebuah tindakan membohongi diri sendiri yang akan membawa seseorang kepada keputusasaannya yang lebih dalam”.

Kierkegaard adalah “uswah” buat pria yang pernah terluka hatinya. Ia adalah contoh sempurna bagi laki-laki yang pernah tersakiti nuraninya. Bahwa penderitaan, kecewa, sakit hati juga keputusasaan akibat asmara tak seharusnya menumpulkan bahkan mematikan fungsi nalar. “Kasih tak sampai” tak harus menjadi alibi untuk kemudian mengatakan “yang patah memang tumbuh, lalu sembuh tapi tak bisa kembali utuh”.[]😊

Dr. Radea Juli A Hambali, M. Hum, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Pos Terkait

Yuk Kenali Wisata Curug Cipeuteuy di Bantaragung Majalengka
Inilah Jejak Masa Kejayaan Sekolah Bersejarah Tamansiswa di Cirebon
Begini Langkah Strategis UIN Cirebon Menuju Keunggulan
10 Tips Hidup Hemat Ala Anak Kos
7 Langkah Penguatan Kurikulum Glokalisasi Ala ICCL UIN Surakarta
Ayo Merapat ke-3 Destinasi Wisata Kuliner Cirebon yang Tidak Boleh Terlewatkan
Inilah Pidato Kepala BPIP saat Upacara Hari Lahir Pancasila 2024
Ayo Kuliah Lapangan Teologi Lingkungan Bareng Mahasiswa UIN Bandung di Pesantren Ath Thaariq

Pos Terkait

Sabtu, 22 Juni 2024 - 07:30 WIB

Yuk Kenali Wisata Curug Cipeuteuy di Bantaragung Majalengka

Kamis, 20 Juni 2024 - 11:57 WIB

Inilah Jejak Masa Kejayaan Sekolah Bersejarah Tamansiswa di Cirebon

Minggu, 16 Juni 2024 - 15:56 WIB

Begini Langkah Strategis UIN Cirebon Menuju Keunggulan

Minggu, 9 Juni 2024 - 07:17 WIB

10 Tips Hidup Hemat Ala Anak Kos

Selasa, 4 Juni 2024 - 08:25 WIB

7 Langkah Penguatan Kurikulum Glokalisasi Ala ICCL UIN Surakarta

Minggu, 2 Juni 2024 - 07:28 WIB

Ayo Merapat ke-3 Destinasi Wisata Kuliner Cirebon yang Tidak Boleh Terlewatkan

Sabtu, 1 Juni 2024 - 13:02 WIB

Inilah Pidato Kepala BPIP saat Upacara Hari Lahir Pancasila 2024

Rabu, 29 Mei 2024 - 13:33 WIB

Ayo Kuliah Lapangan Teologi Lingkungan Bareng Mahasiswa UIN Bandung di Pesantren Ath Thaariq

Pos Terbaru

Reliji

Cerita Haji Baridin

Jumat, 21 Jun 2024 - 15:27 WIB

Reliji

Ibadah, Istiqamah dan Haji

Selasa, 18 Jun 2024 - 12:05 WIB