Ulama, Akademisi, Menulis dan Akhlak

SUNANGUNUNGDJATI.COM-Ulama selalu mempermudah teori yang sulit menjadi lebih mudah sehingga bisa dipahami oleh umat. Akademisi kadang mempersulit teori yang mudah menjadi semakin sulit sehingga sulit dipahami oleh umat.

Menjadi ulama sekaligus menjadi akademisi itu lebih penting daripada menjadi akademisi yang ulama. Belajar kepentingannya adalah memberikan kebermanfaatan bagi umat, bukan hanya mengejar harta, jabatan dan kekuasaan yang sementara. Orang yang sudah selesai dengan dunianya, maka sudah dipastikan tidak akan tergiur secara berlebihan terhadap harta, jabatan dan kekuasaan.

Semakin mengejar harta, jabatan dan kekuasaan semakin menunjukkan dirinya menjadi budak dunia dan belum selesai dengan dunianya. Rasulullah SAW bersabda “Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Ulama terdahulu sangat produktif dalam menulis untuk kepentingan peradaban umat sehingga kitabnya menjadi rujukan umat hingga sekarang dan namanya tetap harum walaupun ulama itu sudah meninggal dunia puluhan tahun. Kadang kita menulis hanya untuk berburu jabatan, uang dan popularitas sehingga niatnya hanya untuk dunia semata.

Perebutan rangking didalam sebuah perguruan tinggi menjadi semakin cepat tetapi sayangnya tidak dibarengi dengan perbaikan akhlak. Tidak sedikit akademisi yang hanya mengejar jabatan dan popularitas sehingga persoalan umat tidak diselesaikan. Kadang ingin mendapatkan gelar akademik saja selalu menggunakan cara-cara yang tidak baik bahkan tidak sedikit yang melacurkan idealiasmenya sebagai seorang cendekiawan.

Apa untungnya mendapatkan gelar akademik tinggi dan tulisan dimuat di jurnal international tetapi akhlak tidak dijaga di ruang publik. Apa artinya predikat akreditasi tinggi tetapi tidak ada perbaikan kualitas sumberdaya manusia. Akreditasi memang penting tetapi harus bersinergi dengan perbaikan akhlak. Popularitas dan rangking tinggi tidak menjadi ukuran persoalan umat bisa diselesaikan dengan baik.

Kalau sebuah universitas tidak mendapatkan rangking yang tinggi seolah menjadi lonceng kematian bagi sebuah universitas. Lonceng kematian kampus ditandai dengan kerusakan moralitas.

Perlombaan kampus terbaik bukan hanya dilihat dari megahnya kampus, banyak jurnal yang dipublis terindeks international, penghargaannya banyak, melainkan sejauhmana sebuah universitas ada peningkatan kualitas sumberdaya, akhlak yang baik, perkataan yang baik, perbuataan yang baik, serta mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi dalam masyarakat.

Mamat Muhammad Bajri, M.Ag, Ketua Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Muhajirin Purwakarta.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button