Buka Puasa Lakpesdam-Jabar Seri #1 : Melayani yang Tak Bisa Dilayani

SUNANGUNUNGDJATI.COM– “Baiklah saya harus menjadi pelayan Tuhan…”, bisikku, “Saya akan siapkan sepatunya, kendaraannya, dan kujaga Dia dari semua yang menganggu. Siapapun yang menghinaNya akan kutumpas!”
“Allah tidaklah seperti itu,” jawab Maulana. Aku terkesiap.
Bukankah seperti di istana-istana tua itu, Raja begitu tua dan membutuhkan pelayanan yang super rewel. Semua harus disiapkan, bahkan makanan harus dimakan pelayannya dulu agar kalau ada racun pelayannyalah yang kejang-kejang dulu. Kalau naik mobil, pelayan harus di depan (pinggir sopir) agar pelayan dulu yang mati kalau ada bom dan tembakan teroris. Tapi Maulana bilang: Allah tak seperti itu
“Whatever you think concerning Allah—know that He is different from that!, begitu ungkapan Ibn Athaillah,”ujar Maulana, “Apa pun yang kamu pikirkan tentang Allah — ketahuilah bahwa Dia berbeda dari semua itu!”
Allah adalah As-Samad, yang tidak hanya berarti “mandiri”, tetapi berasal dari akar kata yang berarti “padat, tidak dapat ditembus, tidak berongga .” Allah adalah tunggal yang tanpa lubang, tanoa bagian, tidak ada pemisahan. Allah secara metaforis utuh, selain Allah –kita semua ini tidak lain berlubang-lubang. Kita semua terbuat dari atom, yang 99, 99999 persen terbuat dari ruang kosong.
Allah adalah pembentuk waktu, pembentuk ruang, penenun jiwa, pembalik hati, Yang menciptakan segala sesuatu secara bertahap namun berada di luar batas waktu. Kehidupan tercipta dari nafas-Nya, kosmos terbentuk dari getaran ucapan-Nya, dan cinta lahir dari rahim rahmat-Nya. Dialah yang berkata, “Jadilah!” pada kehampaan yang luas, dan keberadaan pun tumbuh, menjadi ada. Kata-katanya mengilhami cahaya untuk memecahkan kegelapan menjadi fajar kehidupan. Ketika matahari terbenam, ketika bintang-bintang menjadi malu, ketika bulan bersembunyi di balik awan, Dia adalah cahaya yang tidak pernah mati.
Dia bukanlah alam semesta, Dia adalah nafas di balik perluasan ruang dan waktu. Allah bukanlah apa yang dilihat mata, tetapi Dialah yang memberi penglihatan pada matamu. Dia bukanlah apa yang bisa disentuh tangan, Dialah yang menginspirasi Anda untuk meraihnya. Tuhan adalah kekuatan di balik semua gerakan karena “Semua yang di langit dan di bumi berseru kepada-Nya, pada setiap jeda Dia bertindak” (55:29).
Dialah yang “menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan” (51:49), agar kamu menyadari bahwa hanya Dia yang satu. Dia adalah Pribadi yang mandiri namun segala sesuatu bergantung pada-Nya. Allah adalah Pribadi yang tidak pernah mati, tetapi memberikan kematian; yang tidak pernah diciptakan, tetapi menciptakan kehidupan; Dia yang tidak pernah melahirkan, tetapi “mengetahui apa yang ada di dalam rahim” (31:34).
Dia adalah Pribadi yang tidak memiliki awal, tetapi segala sesuatu dimulai dariNya; Yang Esa tanpa akhir, tetapi segalanya kembali padaNya.
“Kalau begitu, kenapa Dia ingin aku menjadi hambaNya, pelayan-Nya?”, saya berbisik dengan kesal.
“Cobalah kau pikirkan,” Jawab Maulana
Prof. Dr. H. Bambang Q-Anees, M. Ag., Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button