Pesan Guru, Titah Tuhan, dan Wabah Covid-19

SUNANGUNUNGDJATI.COM – Guru “menemuiku” lagi seusai buka puasa. Pesan pertamanya yang kubaca, ia menegaskan tentang sesuatu yang inti dalam kehidupan. Tentang sepasang persaksian yang harus dijadikan ukuran. Tentang hukum yang akan berlaku jika manusia melecehkan bahkan membangkang titah Tuhan.

“Arahkan mata penglihatan ke sekelilingmu. Amati dengan teliti. Adakah kau menemukan sesuatu yang ganjil? Apakah kita telah menemukan jalan keluar dari krisis ini? Apakah kita dihantar pada suatu kepastian bahwa setiap kita sudah mendapat perlindungan dan penjagaan yang semestinya dari penentu kebijakan? Apakah ilmu pengetahuan memberikan harapan bahwa wabah ini bisa diredakan? Apakah keimanan yang kita punya sudah cukup kokoh menopang ketika kabar duka dan kehilangan nyawa setiap hari dikabarkan?

Pertanyaan bertubi. Rangkaian soal berat yang tak bisa aku mengerti bagaimana menjawabnya. Aku hanya bisa menghela nafas. Hanya membaca pesan-pesannya yang terus bermunculan.

“Di hadapan wabah yang tengah kau hadapi, ilmu pengetahuan seumpama kehilangan kemampuan. Kita diperintahkan menunggu dan mungkin diam: “stay at home”. Di rumah saja. Para ilmuan seperti kehilangan kesaktian. Memerangi dan menaklukan makluk yang tak bisa diendus oleh mata seperti mikroba tak semudah seperti yang dikira.”

“Di ujung prustrasi dan ketidakmampuan menemukan pintu dan jalan keluar, kita dipaksa menyerah untuk kemudian diharuskan “berdamai” dengan wabah. Ini jalan terbaik, mungkin, sekalipun berdamai adalah situasi yang tak bisa selalu jelas rupa”.

Aku tak bisa menyela dari pesan Guru yang kubaca. Ia terus menghujaniku dengan ketikan dan kata-katanya yang membuatku semakin terdiam. Sesekali, ia mengirimku gambar atau video yang lucu. Guru bilang, “itu ilustrasi, kau temukanlah pengertiannya betapa kita telah keliru dan telah ditipu oleh cara-cara penyelesaian yang seperti kentut saja. Bauu!”

“Siasatnya salah! Virus tak bisa diperangi. Wabah tak mungkin musnah hanya dengan mengandalkan penemuan obat atau vaksin”! Kekeliruan bermula karena kita mengawalinya dengan tidak mengucap “Iqro bismirobbik” (baca dengan nama Tuhanmu). Kita mengabaikan Tuhan. Menyepelekannya. Seolah manusia bisa dengan gagah membereskan wabah dan segalanya hanya dengan ilmu pengetahuan yang padahal tidak seberapa”.

“Tanpa “Iqra bismirobbik” segalanya hanya akan sia-sia. Inilah yang membuat kita menjadi ambigu. “Stay at Home” meraut nasib menanti temuan obat dan vaksin. Kepercayaan bahwa obat dan vaksin sebagai penyelesai masalah telah menempatkan keduanya menjadi seumpama “new god”. Tuhan baru. Penentu nasib, hidup atau mati. Keliru!!!”

“Sudah! Kau renungkanlah pesan-pesanku! Kau boleh menuliskan ulang dengan bahasamu sendiri. Seturut dengan apa yang kau fahami.”

Tak terasa. Rokok tinggal sebatang. Kopi hanya tinggal satu tegukan. Di hisapan terakhir aku mengingat kata-kata Yuval Noah Harari, ““will coronavirus change our attitudes to death? Quite the opposite?”. Apakah coronavirus, akan mengubah sikap kita hingga mati? Atau, malah sebaliknya?

Allahu a’lam

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum., Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button