Mengapa Hidup Mesti Punya Tujuan? Ini Alasannya!

SUNANGUNUNGDJATI.COM – Dalam agama Islam, Sang Pemelihara sekalian alam semesta ini menganjurkan, bahkan menurut saya sendiri hukumnya wajib, agar umat manusia memiliki tujuan-tujuan dalam hidupnya. Contoh sederhananya tujuan mengapa kita diciptkan ke alam dunia ini. Jawabannya ialah untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada-Nya.

Alhasil, segala apa yang diciptakan di dunia ini memiliki satu titik tujuan yang konvergen yaitu menuju Allah Swt, Tuhan semesta alam. Konsep ini agaknya lebih dekat dengan paham teleologisme yang juga mengatakan bahwa hiruk pikuk kita dewasa ini pasti meiliki tujuan tertentu. Lain cerita bila kita melirik sedikit filsafat nihilisme yang skeptis memandang masa depan, bahkan menganggap tujuan di masa depan itu tidak ada sama sekali.

Mengapa kita harus punya suatu tujuan? Bahkan di dalam kitab suci, kita yang masih menghirup udara segar ini disindir dengan keras “Mau kemanakah kamu hendak pergi?” (Qs. at-Takwir:26 ). Sebuah kalimat satir yang mungkin bisa kita interpretasikan ke dalam makna yang jauh lebih luas.

Kalimat sederhana yang maknanya jauh dari kata sederhana. Sang Pencipta melalui penggalan surat tersebut mencoba menyadarkan pikiran kita yang sedang mager ini agar punya keinginan untuk menyisipkan tujuan-tujuan hidup. Agar anak cucu Adam sekalian tidak terpuruk, tanpa arah, bersikap malas dan penuh keputusasaan.

Penulis dan pembaca sekalian sepakat bahwa tujuan hidup yang utama sebagaimana yang telah difirmankan Allah Swt dan didawuhkan Rasulullah Saw yaitu ibadah kepada-Nya Yang Maha Tunggal. Ini merupakan tujuan jangka panjang meskipun tidak sepenuhnya bisa dikatakan jangka panjang, karena umur manusia tidak ada yang persis mengetahuinya.

Bila kita mau sedikit saja memahami seberapa penting arti tujuan hidup kemungkinan besar kita akan mampu menjalani hidup dengan sangat antusias. Memiliki tujuan-tujuan tertentu dalam hidup kita hari ini sama dengan mengambil pelajaran dari Tuhan yang menciptakan manusia dengan tujuan tertentu.

Agakya bisa dibilang durhaka bila menjalani hidup tanpa sebuah tujuan menurut perspektif agama. Sebab agama mengajarkan kita bahwa ada banyak hal yang harus dituju seperti seperti hari kebangkitan, hari penghisaban, hari pembalasan dan lain-lain. Bagi mereka yang mendewa-dewakan filsafat materialisme dan menganggap alam arwah atau ruh itu bukanlah realitas, pendapat saya dalam hal ini bertolak belakang.

Karena di agama kita pasti bakal ada suatu hari di mana ruh pecah kongsi dengan raga. Juga bagi mereka yang menganggap hidup ini cuma-cuma, mengalir bagai kayambang, seperti dikatakan para pemercaya nihilisme, pendapat saya juga berlainan. Karena jelas-jelas bicara soal hidup kini juga berbicara tentang tujuan dan masa depan.

Pada dasarnya, kita mesti memiliki tujuan hidup. Bila sedang menempuh pendidikan atau kuliah, kita harus segera mencatat target-target yang diinginkan.

Dalam pendidikan harus ada tujuan, terutama tujuan membenahi kualitas moral masing-masing diri. Tujuan dalam menempuh pendidikan penting sekali sebagai bahan motivasi dan meningkatkan kualitas diri.

Tanpa tujuan yang jelas belajar hanya sebatas belajar tanpa ada hasil yang ingin diwujudkan. Bila kita sedang bekerja, jadikan pekerjaan tersebut sarana memenuhi kebutuhan hidup, bukan hidup diberikan sepenuhnya untuk bekerja.

Dalam pernikahan, pelajaran dari Tuhan bahwa umat manusia harus punya tujuan benar-benar harus direalisasikan. Bila nikah hanya sebatas nikah, tanpa mengantongi tujuan tertentu lebih mirip kepada hewan yang sibuk berkembang biak. Sedangkan pernikahan manusia tentu harus berkembang baik dengan tujuan-tujuan yang suci.

Biasanya kita menyebut dengan 3 kalimat singkat : sakinah, mawaddah dan warahmah. Adapun bila kebetulan saat ini kita sedang memimpin pemerintahan atau organisasi, memiliki tujuan jelas merupakan hal mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Pemmpin mesti visioner dan gigih mewujudkan tujuan-tujuannya.

Melalui tulisan ini penulis bukan bermaksud menceramahi pembaca, namun bermaksud menceramahi diri penulis sendiri. Pasalnya usia muda yang kebetulan dihinggapi kasus quarter life crisis (Krisis Hidup Usia Pertengahan) bukan menghantui penulis saja, namun barangkali dirasakan pula oleh sebagian besar kaula muda.

Apa yang bisa dilakukan saat ini? Saat ini kehidupan kita mesti dirubah, sesekali mager tidak menjadi masalah namun alangkah lebih baik bila mulai detik ini kita mecatat daftar tujuan-tujuan hidup. Mengingat apa saja point-point penting yang diajarkan agama tentang tujuan hidup di dunia. Saat kita memiliki tujuan dan berusaha menggapainya, di sanalah perubahan demi perubahan akan mulai dirasakan!

Rafi Tajdidul Haq, Tim Redaksi sunangunungdjati.com.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button