Nulis

11 Cara Berkualitas Mengasah Kemampuan Menulis Artikel Opini

SUNANGUNUNGDJATI.COM – Kemajuan peradaban ditentukan dua kekuatan yang saling melengkapi. Posisinya juga bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan: membaca dan menulis!

Dengan aktivitas membaca, transfer pengetahuan terjadi sehingga setiap orang punya pengetahuan yang dapat memajukan peradaban. Sementara itu, dengan menulis juga transfer pengetahuan akan menjadi kekuatan yang mendorong (driving force) peradaban menjadi berkualitas.

Karena itu, selain kewajiban moral bagi setiap orang, menulis juga bisa memelihara kesehatan jiwa.

Nah, berdasarkan pengalaman saya, untuk melatih diri hingga jago menulis artikel opini di media massa, setidaknya memerlukan 11 hal berikut:

1). Menguatkan tekad; jadikanlah aktivitas menulis sebagai kewajiban moral.

2). Rajin membaca karya orang lain, seperti artikel, berita di Koran, buku dan novel.

3). Membiasakan menulis setiap hari. Satu jam per hari saja sudah lebih dari cukup.

4). Ciptakanlah lingkungan yang mendukung. Misalnya, membentuk komunitas menulis.

5). Arahkanlah materi tulisan pada bidang yang dikuasai. Contohnya, soal politik, budaya, agama, sosial dan ekonomi ataupun pemikiran.

6). Dirikanlah forum diskusi di antara teman-teman seangkatan. Kalau tulisan kita lebih mengarah pada nilai-nilai agama, misalnya buatlah kelompok diskusi bernama Lingkar Studi Agama atau yang lainnya.

7). Mengetahui Visi-Misi media, dengan cara rajin membaca artikel opini, tajuk rencana, dan berita-berita yang diterbitkan media bersangkutan. Ini berfungsi untuk menyelaraskan ide-gagasan kita dengan pihak media, yang berposisi sebagai pembentuk opini masyarakat. Sebab, mereka (redaktur dan pemilik perusahaan pers) adalah the man who know much.

8). Kirimkanlah artikel via-pos atau via e-mail. Dalam mengirimkannya, anda harus membuat kata pengantar – bagi sebagian media ada yang tidak perlu menggunakan surat pengantar – agar lebih etis. Apalagi bagi penulis pemula. Perlu menyertakan prolog tulisan kita supaya pihak redaktur bisa mengetahui arah tulisan.

9). Setelah mengirim tulisan, jangan menunggu artikel dimuat. Bacalah realitas dan buku, lalu menulis kembali dan kirimkanlah. Terus membaca, terus menulis, terus mengirimkannya ke media massa. Insyaallah, dengan kesabaran artikel anda akan ada yang dimuat. Amiin .

10). Kalau artikel ditolak dan dikembalikan, silahkan anda membuat weblog di layanan web hosting gratisan. Anda bisa memublikasikannya melalui media internet, dan berfungsi untuk terus melihara tradisi menulis di dalam diri.

11). Ketika anda menulis, niatkan dalam diri bahwa hal itu adalah bentuk dari ijtihad intelektual buat agama, bangsa, dan Negara!

Sukron Abdilah, Blogger, Freelance Writer, Mediapreneur, dan Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button