Politik ‘Sekularisme’ Maladewa?

SUNANGUNUNGDJATI.COM-Ini sebuah negara kepulauan. Seperti Indonesia. Tapi luasnya kecil saja. Hanya seperenam luas kabupaten Bandung. Maladewa orang menyebutnya. Atau Maldives dalam bahasa Inggris.
Jika presiden Amerika Joe Biden menyebut Jakarta akan tengelam. Dalam sepuluh tahun ke depan. Kalau tidak ada usaha membendungnya. Maka Maladewa tentu lebih parah lagi. Permukaan tanahnya sangat rendah. Rata-ratanya hanya 1,5 meter di atas permukaan laut. Bisa anda bayangkan. Memang negeri kepulauan ini. Dikelilingi laut.
Penduduknya mayoritas Muslim. Seperti juga Indonesia. Hanya saja penduduknya juga sedikit. Kurang lebih setengah juta jiwa. Konstitusi Maladewa 2008. Menyebut Islam Sunni sebagai agama negara.
Akhir-akhir ini. Politik di negara ini memanas. Kata berita koran. Bukan hasil penelitian. Konon gara-gara pertentangan politik. Dua tokoh politik negeri ini. Mohamed Nasheed dan Ibrahim Solih. Yang pertama ketua parlemen atau DPR. Yang kedua Presiden Maladewa saat ini. Alasannya mungkin karena perbedaan ideologi politik. Perbedaan respon mereka atas politik ‘Islam radikal’. Padahal keduanya berasal dari partai yang sama. Keduanya pendiri partai penguasa saat ini. Partai Demokrasi Maladewa (Maldivian Democratic Party) atau MDP.
Ketika pengamat menyebutnya sedang ada konflik. Keduanya menyangkal. Bukan konflik, tapi hanya perbedaan pendapat. Wajar, keduanya teman dekat. Bahkan masih ada ikatan saudara. Nasheed adalah saudara sepepupu isterinya Solih.
Mohamed Nasheed awalnya adalah journalist dan activist politik. Beberapa kali ditangkap dan diasingkan. Aktif lagi berpolitik. Mengasingkan diri lagi. Begitu terus menerus. Antara tahun 1999-2015. Pulang lagi ke Maladewa tahun 2018. Kemudian menjadi ketua DPR, sejak tahun 2019. Sampai sekarang.
Ibrahim Solih, presiden sekarang. Juga politisi kawakan. Terpilih pertama menjadi anggota parlemen tahun 1994. Ketika berusia tiga puluh tahun. Sama seperti Nasheed, ia juga memainkan peran penting. Dalam membentuk partai MDP. Ia dianggap sebagai figure senior di partai MDP dan terpilih menjadi presiden Maladewa, tahun 2018. Pertentangan dua tokoh politik kunci Maladewa ini. Membuat para pengamat menyebutnya. Partai penguasa menuju kehancuran.
Sebagai presiden MDP. Dan sebagai sosok yang menominasikan Solih menjadi presiden. Nasheed menginginkan Soleh. Selalu sepaham dengannya. Tapi Solih punya pendiriannya sendiri. Tidak mau diatur Nasheed.
Untuk menjegal Solih. Nasheed akan mengajukan perubahan institusi. Dari sistem presidential menjadi sistem parlementer. Tentunya agar ia lebih berkuasa. Sebagai ketua parlemen. Biarlah Solih sebagai presiden. Yang bersipat simbolik. Dan dia menjadi Perdana Menteri. Menurut Solih. Jika itu akan diubah. Maka perlu ada referendum.
Rupanya pertentangan itu bukan hanya soal jabatan saja. Ada alasan ideologis. Dalam mengatur negara. Atau bahkan menjadikan Maladewa sebagai negara sekuler? Jadi ingat founding father kita. Apakah Indonesia menjadi negara Islam? Atau negara sekuler? Terjadi kompromi, win win solution. Negara Pancasila.
Bedanya. Isu itu muncul di Maladewa. Bukan di awal kemerdekaannya. Tapi sekarang-sekarang ini. Karena keresahan sebagian orang Maladewa. Akan munculnya radikalisme Islam. Sebagai ketua parlemen, Nasheed meminta Solih tegas memerangi kaum radikal. Nasheed menyebutnya kaum Wahabi. Nasheed mengkhawatirkan kepolisian, militer dan kehakiman diinfiltrasi kaum Wahabi. Yang ia tuduh berafiliasi dengan ISIS. Nasheed ingin Wahabi dilarang di Maladewa. Dengan anggapan sebagai orang-orang yang tidak islami. Ia sebut dengan istilah La Deeni.
Nasheed menyuarakan rancangan undang-undang. Di parlemen. Undang-undang tentang perlunya pembubaran atau eksekusi kaum La Deeni. Presiden Solih tidak setuju. RUU itu ia pandang sebagai sesuatu yang berbahaya. Sama dengan membangunkan macan tidur. Bagi Solih, isu radikal Islam sangat sensitive. Di negerinya. Bukankah mayoritas penduduknya beragama Islam.
Bagi Soleh sekularisme adalah sesuatu yang jelek. Tapi Nasheed terus mengkampanyekan sekularisme di Maladewa. Sekularisme hanya memisahkan urusan negara dari agama. Bukan menghilangkan Islam, kata Nasheed berargumen.
Sekularisme juga menjadi isu hangat. Bagi partai-partai oposisi. Pimpinan Gerakan Reformasi Maladewa, Maumoon Abdul Gayoom misalkan. Ia berpendapat memidanakan orang yang menghukum pelanggar aturan Islam, tidak masuk akal di negara Islam. Al-Sheikh Hassan Moosa Fikry dari Jamiyyath Salaf juga mengkhawatirkan bahwa sekularsime Barat. Akan membawa orang-orang Maladewa. Dengan mudah berganti agama.
Presiden Solih tidak sependapat. Dengan dua tokoh oposisi di atas. Baginya, ideologi ekstrimisme. Yang mempropagandakan pertumpahan darah. Atas nama Islam. Tidak boleh dibiarkan di Maladewa. Begitu juga, kebencian terhadap Islam harus diberantas. Kebencian itu berbahaya. Tidak bisa ditolerir. Soleh lebih memilih. Menyelesaikan masalah ini. Dengan cara pendidikan dan aturan yang legal.
Tapi bagi Nasheed. Pendekatan yang dilakukan Solih tidak akan efektif. Bagi Nasheed, Solih gagal menjaga Maladewa dari kehancuran. Nasheed menunjuk Islamic Adhaalath Party sebagai biang keladinya. Ia menunjuk ketua partai itu, Syaikh Imran. Telah mempengaruhi Solih.
Rupanya kontestasi antar tokoh Islam di Maladewa. Tentang sekularisme. Tentang Islam radikal. Tentang bentuk negara. Masih terus berlangsung. Saya tidak tahu, bagaimana kelanjutannya. Siapa yang akan banyak didukung rakyat. Solih yang anti sekularisme. Atau Nasheed yang terus mengkampanyekan sekularisme. Bagaimana dengan partai-partai lainnya. Akankah isu ini terus memanas. Dan justeru akan dimanfaatkan oleh partai-partai oposisi? Akankah MDP betul-betul pecah? Jadi ingat politik Malaysia. Yang juga sedang kurang stabil. Antara beberapa partai yang terus saling serang. Antara dua tokoh Mahathir dan Anwar Ibrahim. Yang kadang mesra.
Kadang berseberangan. Yang sekarang kelihatan lagi deket. Karena sama-sama ingin menumbangkan Muhiddin. Sang perdana Menteri Malaysia. Di Malaysia ada Mahathir dan Anwar. Di Maladewa ada Nasheed dan Solih.
Yang pasti. Akan sangat menarik. Jika isu sekularisme dan negara Islam. Di Maladewa. Diteliti lebih jauh. Bagaiaman akar sejarahnya. Apakah memang kontestasi itu betul-betul baru muncul sekarang? Atau sudah ada dalam sejarah Maladewa? Begitu juga dengan isu radikalisme Islam. Di negara kepulauan itu. Perlu dicari dan ditelusuri. Bagaimana geneologisnya?
Bisa jadi topik penelitian. Kalau perlu sambil field research. Ke Maladewa. Negeri kepulauan. Yang tujuan wisatanya. Banyak yang indah dan menawan. Sayang masih pandemi. Belum bisa riset. Apalagi keluar negeri. Simpan saja dulu. Cukup baca-baca literature review. Tentang sekularisme dan negara Islam di Maladewa. Sambil membandingkan kontestasi itu. Dengan di kita. Dengan di Malaysia. Yang sama-sama mayoritas Islam. Sambil berdo’a semoga covid segera berlalu. Sebelum ke Maladewa, bisa lihat photo-photo yang saya lampirkan.
Konon seperti itulah wisata penginapan-penginapan terapung di Maladewa. Tapi ini bukan photo di Maladewa. Ini di negeri tercinta, Indonesia. Sambil melihat keindahan laut. Dari penginapan terapung. Bikinlah proposal penelitian. Tentang kontestasi. Sekularisme vs Islamisme di negara-negara mayoritas Islam. Seperti di Maladewa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button