Menu

Mode Gelap

Sospol · 21 Jan 2023 ·

Tak Ada Yang Mencintai Indonesia


 Tak Ada Yang Mencintai Indonesia Perbesar

 

Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena cintanya itulah, para ulama awal masuk ke Nusantara, mengislamkan negeri ini dan membawanya “min adz-dzulumāti ilā an-nūr” (dari kegelapan kepada cahaya pentunjuk), sehingga yang tadinya penduduk Nusantara yang menyembah dewa-dewa beralih menjadi menyembah Tuhan yang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menyiramkan hidayah di bumi Nusantara setelah ajaran-Nya didakwahkan oleh para ulama utusannya sebagai warāsatul anbiyā.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena setelah negeri ini berada di bawah pemerintahan kesultanan² Islam, dengan kontrol dan bimbingan para ulama, mereka tidak sudi dan melakukan perlawanan bahkan pemberontakan ketika negeri subur nan berkah ini akan dikuasai oleh orang-orang kafir, Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang, bangsa-bangsa asing kulit putih yang datang bergantian ingin menguasai negeri, merampas dan merampok kekayaan alamnya.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena kehendak bernegara sendiri (zelf-bestuur) agar penduduk Nusantara tidak terus berada dalam penguasaan kolonial asing, agar bermarwah, berharga diri dan bisa menentukan nasibnya sendiri, pertama kali disuarakan oleh seorang guru bangsa dan pemimpin Islam, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, 29 tahun sebelum Indonesia merdeka, dalam acara National Congress, NATICO-1 Central Sarekat Islam, 17-24 Juni 1916 di Bandung. Setelah diawali HOS Tjokroaminoto dan SI, kemudian ide zelf-bestuur itu terus menguat menjadi gerakan kemerdekaan seluruh komponen bangsa hingga bebas merdeka tahun 1945.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena setelah Indonesia merdeka, dalam perumusan dasar negara dalam sidang BPUPKI, yang tadinya syariat Islam sudah disahkan sebagai Piagam Jakarta, untuk diberlakukan pada umat Islam Indonesia, agar negeri ini berkah dan diridhai, meneruskan kesultanan² Islam sebelumnya, sebagai hasil musyawarah bersama seluruh founding fathers dan tokoh-tokoh bangsa, tetapi kemudian, aspirasi yang sangat prinsipil dalam kehidupan umat itu, dengan sangat getir, pahit dan luka yang dalam, rela dihapuskan kembali demi untuk menghindari perpecahan negeri yang baru merdeka, demi keutuhan bangsa, demi kebersamaan semua dan demi toleransi yang tak ada bandingannya dalam sejarah Indonesia. Padahal, perpecahan itu baru kekhawatiran, belum tentu terjadi. Umat Islam Indonesia memang luar biasa, sangat tak pantas mereka diajari toleransi, justru pada Islamlah yang lain harus belajar toleransi.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena ketika kerakusan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme ingin kembali melalui agresi militer Belanda dan Inggris, disambut oleh seruan Resolusi Jihad dari pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, 22 Oktober 1945 dan kemudian pekikan takbir “Allahu Akbar” Bung Tomo dan para ulama dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang sekitar 6.000 – 16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena setelah peristiwa G 30 S/PKI, kemudian PKI dibubarkan oleh Presiden Soeharto dan dilarang hidup kembali oleh konstitusi melalui TAP XXV/MPRS/1966, umat Islamlah yang paling kuat anti PKI-nya untuk menjaga konstitusi dan mempertahankan Pancasila agar tidak diutak-atik menjadi Trisila. PKI adalah ideologi anti-Tuhan yang terbukti menghalalkan segala cara, membunuh dengan sadis tujuh jenderal pahlawan revolusi.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena tak akan ada NKRI tanpa Mosi Integral Natsir 3 April 1950. Alias, tak akan ada NKRI tanpa peran dan jasa tokoh Islam. Mohammad Natsir adalah pemimpin Partai Islam Masyumi dan figur Islam yang sangat menonjol. Saat itu, sebagai pemimpin Fraksi Masyumi di DPR-RIS, ia ditugaskan oleh Perdana Menteri RIS Mohammad Hatta untuk berkeliling melakukan lobi-lobi guna menyelesaikan berbagai krisis rasa persatuan di berbagai daerah.

Dari hasil keliling daerah itu, Natsir berkesimpulan negara-negara bagian itu akan membubarkan diri alias berpisah dengan Republik Indonesia. Dengan lobi-lobi politiknya yang berpengaruh, Natsir mengajak dan meyakinkan mereka untuk bersatu dalam kesatuan negara yang baru 5 tahun berdiri. Demi menggolkan tujuan itu, ia kemudian merumuskan Mosi Integral yang disampaikan di Parlemen Sementara RIS, 3 April 1950. Mosi itu diterima dan negara-negara bagian itu akhirnya bersedia mengikatkan diri dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak itulah NKRI dikenang sebagai hasil dari ”Mosi Integral Natsir.” Menuduh umat Islam anti NKRI adalah kedunguan akut yang tak membaca sejarah. Rasa nasionalis yang didasari kebodohan.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena negara merdeka yang dijalankan tanpa pelaksanaan syariat Islam bagi umat Islam, negeri ini kemudian berjalan tanpa keberkahan. Yang awalnya ekonomi koperasi Pancasila jadi kapitalisme liberal, tadinya demokrasi Pancasila jadi demokrasi liberal. Hingga era reformasi, ketidakadilan sosial, ekonomi dan hukum terasa dimana-mana. Pancasila hanya tulisan dan slogan bukan bukti dan pengamalan. “Pancasila itu gak ada, manaa…? Yang ada hanya tulisan dan burung Garuda,” kata budayawan Sudjiwo Tedjo.

Hutang besar numpuk, negara lemah, kedaulatan terancam bahaya. Bawah sadarnya, umat Islam itu mengatakan dengan penuh keyakinan, kalau Piagam Jakarta dulu (Pancasila Bersyari’ah) tidak diubah, Indonesia tidak akan seperti sekarang ini. Pasti ada keberkahan dari langit karena negaranya shaleh menjamin pelaksanaan pelaksanaan syariat Islam alias hukum Tuhan. Tuhan pun akan sayang, melindungi Indonesia, keamanan dan kesejahteraannya, melimpahkan barokah rizki-Nya. Baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena kini saat kedaulatan negara terancam, umat Islam dan para ulamalah yang paling sadar dan konkret berjuang dengan selalu mengingatkan dan menegur pemerintah dan negara untuk kembali pada Pancasila yang murni dan konsekuen, yang malah dimusuhi tak henti-henti dengan cap radikal karena negara malah mengabdi pada oligarki.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena aspirasi syariat Islam terus-menerus diperjuangkan justru untuk menyelamatkan negeri dari kehancuran dan sebagai tanggung jawab yang tinggi pada bangsa dan negara. Umat Islam sangat yakin, agama itu way of life, jalan keselamatan seperti selama ini diamalkan secara pribadi-pribadi, tapi tanggungjawab ini malah dituduh radikal dan berbahaya. Asing bin Aseng sangat senang dengan tuduhan ini. Mereka joget riang gembira, melakukan tos tangan, tertawa sambil minum beer dan arak.

Tuduhan-tuduhan radikal itu adalah kesadaran para penuduhnya sendiri di bawah sadar yang ketakutan pada ajaran agamanya sendiri akibat agamanya tidak dihayati dan dijiwai. Sehatkah berpikir, agama diturunkan untuk merusak kehidupan dan membuat kekacauan padahal selama itu juga justru yang mereka anut? Dalam kekacauan pikiran, absennya akal sehat dan kelemahan penghayatan itu, masuklah bisikan² syetan berupa kecurigaan² tak beralasan dan ketakutan terhadap gambaran agamanya sendiri yang dipompakan dari luar yang disebut Islam phobia.

Dan yang menderita dari ketaksadaran dan kegelapan pikiran itu adalah umat Islam lagi sebagai mayoritas yang selama ini justru paling terdepan dalam tanggungjawab dan pembelaannya terhadap negeri. Ini bukan ilusi tapi fakta sosial politik sepanjang sejarah Indonesia, sejak era kolonial hingga zaman revolusi kemerdekaan.

Sedangkan bangsa dan negara ini akan kacau, terpecah belah, bila agama dominan dalam kehidupan publik dan politik, itu adalah pikirannya Snouck-Hurgronje-isme yang mengendap dalam bawah sadar benak publik yang tak menghayati agama. Terpecah belah itu justru sekarang, sejak pilpres 2014 masyarakat terbelah dalam stigma sebutan cebong-kampret, kadrun-PKI, terus-terusan bertengkar panas sesama warga negara, tak ada kehangatan dan keakraban rakyat antar kelompok, yang semuanya ditepuk tangani dengan meriah oleh oligarki.

Tak ada yang mencintai Indonesia melebihi umat Islam, karena atas seluruh jasa, kontribusi dan peran umat Islam dalam membangun negara dan merawatnya, tetap berdo’a dengan tulus dan kecintaan dengan do’anya Nabi Ibrahim AS: “Rabbij’al hādzā baladan āmina!” (Tuhanku, jadikanlah ini negeri, negeri yang aman sentosa).***

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

Bangkrutnya Era Politik Konvensional?

5 Februari 2023 - 21:42

Wujudkan Demokrasi yang Bersih, Hadirkan Kampung Anti-Politik Uang

26 Desember 2022 - 23:58

Politik ‘Sekularisme’ Maladewa?

21 Maret 2022 - 16:17

Pengunduran Pemilu & Pilkada

10 Maret 2022 - 10:41

Politisi “Al-Fatihah”

8 Maret 2022 - 10:00

Kang Emil: Konten Politik Bisa Jangkau Generasi Milenial

10 Februari 2022 - 09:53

Trending di Sospol