Yuk Baca Buku Terjemahan Puitis Al-Quran: Dangding dan Pupujian Al-Quran di Jawa Barat

- Editorial Team

Rabu, 20 Maret 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AHMAD SAHIDIN, penulis buku Tanda-Tanda Kiamat Mendekat.

SUNANGUNUNGDJATI.COM — Saya membaca buku “Terjemahan Puitis Al-Quran”. Bukunya tebal 266 halaman. Isinya menarik dan jarang ditemukan dalam buku yang bertemakan Islam dan kesundaan. Buku karya Jajang ini didasarkan pada riset dan kajian serius sehingga tersaji dalam bentuk narasi yang mudah dibaca. Apalagi ditulis oleh ahlinya. Tentu makin berbobot buku tersebut.

Jajang A. Rohmana adalah seorang intelektual Muslim Sunda dan produktif dalam menulis artikel di jurnal nasional maupun internasional. Awalnya saya melihat buku dipamerkan pada facebook Jajang Arohmana. Saya pesan kemudian diambilnya saat diskusi buku di UIN Bandung. Buku berjudul “Terjemahan Puitis Al-Qur’an: Dangding dan Pupujian Al-Qur’an di Jawa Barat” ini terbit tahun 2019 oleh penerbit Layung Bandung.

Setelah didapatkan bukunya, saya minta coretan tanda tangan sang penulis dan ngobrol sedikit tentang khazanah Islam dalam konteks Sunda. Selanjutnya nyimak diskusi dan saya beli satu lagi bukunya. Saya beli untuk diberikan secara khusus kepada guru saya, yang minat dalam studi Al-Qur’an. Putra guru saya yang mengantarkan buku berkata: “Abi bilang, bukunya bagus. Terima kasih.” Saya bersyukur ternyata bukunya diterima.

Bagi saya buku tersebut luarbiasa. Mengangkat dan menguraikan aspek khazanah Al-Quran di Tatar Sunda, yang secara akademik tidak banyak diapresiasi. Bahkan dibanding dengan karya HB Jasin yang kontroversi “Al-Quran Bacaan Mulia”, lebih dahulu Wiranatakusumah menerjemahkan dengan puisi Sunda. Hanya saja tidak kontroversi meski untuk disoalkan ada hal yang layak dikritisi. Jajang selaku penulisnya mengulas tentang kelemahan dari Wiranatakusumah, Hidayat Suryalaga, Sirodjuddin Abbas, Enas Mabarti, dan Yus Rusyana.

Dalam buku “Terjemahan Puitis Al-Quran” ini penulis membahasnya dalam sepuluh bab. Mulai dari terjemahan Alquran dan puisi Sunda, dangding dan pupujian, terjemahan Alquran di Indonesia kemudian Jawa Barat, para penerjemah Alquran dalam narasi puitis dan karyanya, karakteristik dari setiap karya, upaya kreatifitas dalam menerjemahkan secara puitis, kaidah puisi dan terjemah Alquran, dan simpulan. Yang akhir ini layak dibaca (jika sudah punya bukunya) karena menyajikan ringkasan dari sembilan bab. Bab demi bab bisa dibaca secara acak dan loncat. Saya memilih full bacanya karena tertarik dengan kajian yang langka diangkat dalam ruang akademik. Apalagi ini khas budaya Sunda dan kesusastraan Islam.

Kalau ingin menikmati rangkaian kata dan kalimat yang puitis dari setiap ayat Al-Quran bisa langsung membuka (bab 6) tentang karya terjemahan dalam bentuk dangding dan pupujian, yang menyajikan juz amma. Meski tidak lengkap tetapi cukup bisa direnungkan isinya. Dinikmati setiap kata dan untaian kalimat yang digunakan untuk merepresentasikan dari isi ayat-ayat Alquran. Dan ini bagian kreatifitas intelektual sekaligus unsur sastrawi. Tentu tidak semua orang Sunda yang Muslim bisa melakukannya. Karena itu, jumlahnya pun tidak banyak karya terjemahan Alquran dengan pendekatan puisi Sunda.

Mungkin akan makin mantap dan nikmat kalau membaca terjemah puitis Alquran sambil mendengarkan senandung lagunya. Karena teks puitis Alquran tersebut merupakan senandung yang biasa dibacakan sebelum shalat fardhu pada waktu maghrib dan subuh. Sayangnya penulis buku tidak menyajikan link youtube atau soundcloud (internet) yang menyajikan senandung terjemah puitis Alquran. Siapa tahu nanti bisa viral kemudian masjid di Tatar Sunda ramai kembali dengan senandung dangding dan pupujian.

Hatur nuhun parantos maos ieu seratan. Simkuring maos buku karya Doktor Jajang ieu kirang langkung kana tilu minggon. Bulak balik satiap halaman anu tos dibaca diaos deui. Eta dilakukeun sabab hoyong dugi ka terang eusing buku. Alhamdulillah beres maosna. Mugi aya barokahna ka simkuring. Aamiin Ya Robbal ‘alamiin.

Pos Terkait

6 Etika Silaturrahim
Mudik ke Cianjur
Dari Bandung untuk Dunia
Saatnya Kenali Serba-serbi Publikasi Ilmiah Mahasiswa
RAMADAN DI TATAR SUNDA (8) : Peringatan Turun Wahyu
RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Tarawih dan Tadarus
Suatu Hari Bersama Sekelompok Sufi
RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Pakansi Puasa

Pos Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 07:30 WIB

6 Etika Silaturrahim

Selasa, 9 April 2024 - 13:25 WIB

Mudik ke Cianjur

Senin, 8 April 2024 - 23:04 WIB

Dari Bandung untuk Dunia

Minggu, 7 April 2024 - 13:19 WIB

Saatnya Kenali Serba-serbi Publikasi Ilmiah Mahasiswa

Sabtu, 30 Maret 2024 - 07:30 WIB

RAMADAN DI TATAR SUNDA (8) : Peringatan Turun Wahyu

Senin, 25 Maret 2024 - 09:48 WIB

RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Tarawih dan Tadarus

Minggu, 24 Maret 2024 - 09:34 WIB

Suatu Hari Bersama Sekelompok Sufi

Kamis, 21 Maret 2024 - 12:05 WIB

RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Pakansi Puasa

Pos Terbaru

Reliji

5 Nilai Orang Bertakwa Pasca Idul Fitri

Jumat, 19 Apr 2024 - 09:45 WIB

Nulis

6 Etika Silaturrahim

Kamis, 18 Apr 2024 - 07:30 WIB