Menu

Mode Gelap

Syariah · 12 Jan 2023 ·

Inilah Sejarah dan Hukum Main Lato-lato Menurut Muhammadiyah


 Inilah Sejarah dan Hukum Main Lato-lato Menurut Muhammadiyah Perbesar

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Saat ini permainan klasik bernama lato-lato kembali populer. Hampir di setiap daerah permainan tersebut dimainkan oleh anak-anak, dewasa, hingga orang tua.

Lato-lato (bahasa Makassar) atau etek-etek (bahasa Jawa) adalah sebuah permainan dua bola clakers (bola keras berbahan plastik) seukuran bakso yang digantung oleh dua utas tali.

Cara memainkannya adalah dengan mengayunkan tali itu sehingga dua bola berbenturan dan mengeluarkan suara ketukan. Meski tampak mudah, permainan ini butuh keahlian dan konsentrasi tinggi untuk mempertemukan kedua bola plastik tersebut. Selain itu, tidak mudah pula untuk mempertahankannya.

Sejarah lato-lato

Berbagai sumber mencatat bahwa lato-lato pertama kali lahir pada 1960-an di Amerika Serikat. Awalnya permainan ini menggunakan kaca berbentuk bulat yang dibenturkan dan menimbulkan bunyi. Karena berbahaya ketika pecah, bola kaca diganti dengan bola plastik.

Di Indonesia, lato-lato sempat populer pada 1970-an dan 1990-an. Bahkan di berbagai daerah lato-lato bahkan diperlombakan karena dianggap menantang.

Meski populer, tidak sedikit keluhan terhadap permainan ini. Pasalnya, suara ketukan yang ditimbulkan lato-lato cukup nyaring dan kadang-kadang muncul pada waktu-waktu beristirahat.

Lantas bagaimanakah hukumnya menurut Muhammadiyah?

Mengutip laman resmi Muhammadiyah, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Agus Tri Sundani menjelaskan bahwa permainan lato-lato tidak haram sepanjang tidak melalaikan, tidak membahayakan, dan tidak mengandung unsur judi.

“Semua permainan itu sebenarnya pada hukum asalnya adalah mubah. Namun, akan bisa menjadi haram kalau mengandung unsur perjudian atau hal yang membahayakan bagi si pemain. Jadi, kalau dilihat dari hukum asalnya, jelas permainan itu adalah mubah atau boleh. Tidak ada dalil yang mengharamkan,” jelasnya.

Namun, Agus berpesan bahwa orang tua perlu mengimbau anak-anak mereka yang memainkan lato-lato untuk tidak larut dalam keasyikkan hingga lalai beribadah dan belajar.

Termasuk tidak memainkannya pada jam-jam ketika orang beristirahat, misalkan di tengah malam. “Pertama, permainan itu jangan sampai melalaikan dari ibadah. Jadi, kalau sudah waktu-waktu kosong boleh dimainkan,” kata dia.

“Himbauan orangtua juga perlu. Kita kecil dulu kan juga sering bermain. Namun, harus diarahkan jangan sampai melalaikan ibadah, melalaikan belajar, dan sebagainya. Waktu bermain juga perlu diperhatikan,” tegasnya.

Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

Bangun Sinergitas, Kanwil Kemenkumham Jabar Terima Audiensi dengan UIN Bandung

10 Februari 2023 - 23:59

Terkena Covid sampai Sang Buah Hati Meninggal, 5 Alasan Berhenti Merokok ala Sukron Abdilah

16 Januari 2023 - 22:07

Bebas Riba, 5 Jenis Investasi Syariah yang Bisa Anda Lirik

24 Desember 2022 - 13:47

Siapkan Pembiayaan KUR Syariah, 3.700 Petani Indonesia Go Digital

24 Maret 2022 - 17:22

Hukum Islam Menerima Kado Valentine, Ini Penjelasan Buya Yahya!

10 Februari 2022 - 10:02

Inilah 10 Prinsip Landasan Ekonomi Syariah

13 Januari 2022 - 10:11

Trending di EkBis