Bedil Lodong dan Bedil Karbit

- Editorial Team

Rabu, 12 April 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Atep Kurnia, Pengurus Pusat Forum TBM Divisi Litbang

SUNANGUNUNGDJATI.COM

“Dina boelan Poeasa sok loba anoe njeungeutan bedil lodong bareto mah, nja eta make minjak tanah” (Dulu, pada bulan Puasa kerap kali banyak orang yang menyulut bedil bumbung, dengan menggunakan minyak tanah). Demikian awal tulisan “Karbit” dalam Sipatahoenan edisi 3 Januari 1935. Kalimat itu menandakan kebiasaan menyulut meriam kecil dari tabung bambu kala Ramadan sudah berlangsung lama di Tatar Sunda.

Bahkan pada paragraf selanjutnya, penulis menyatakan adanya perubahan pada pembuatan bedil lodong. Penyebabnya karena sudah mulai jarang yang menyulutnya, kecuali di desa-desa yang jauh dari kota (“Tapi kabehdieunakeun mah bedil lodong teh tara pati aja anoe njeungeut, iwal ti di desa noe djaoeh ka dajeuh pisan mah”).

Penggantinya bedil karbit yang terbuat dari pohon pepaya yang bagian dalamnya dikosongkan atau pohon paku yang besar. Karbitnya diberi air, kemudian ditutup dan disulut (“Eta bedil lodong tea digantina koe bedil karbit. Biasana anoe sok dipake bedil karbit teh lain lodong, tapi tangkal gedang dikorowot ti djerona atawa koe tangkal pakoe anoe gede. Karbitna ditjaian, toeloej ditoetoep liangna geus rada lila disoendoet, djelegoer disada”).

Swarha dalam tulisannya “Perdjalanan ka Tokyo” (Sipatahoenan, 18 Juli 1936), melakukan otokritik pada perkembangan teknologi di Hindia, yang jauh berbeda dengan yang ia temukan di Jepang, termasuk dalam hal persenjataan. Katanya, “Nja eta atoeh, sakalieun bedil soendoet oge, anoe biasa baheula sok dipake di anoe soenatan atawa ngawinkeun ajeuna teh geus teu katembong-tembong… nineung katjida teuing bangsa oerang mopohokeun kana parabot karoehoenna teh” (Begitulah, sekalipun bedil sulut, yang dulu biasa dipakai pada orang punya kenduri sunat anak atau menikahkan, sekarang sudah terlihat lagi … rindu, bangsa kita terlalu melupakan terhadap perkakas buatan nenek moyang).

Dalam konteks bedil lodong dan bedil karbit, ia pun mengkritiknya. Karena sudah digantikan dengan petasan yang notabene bukan buatan bangsa sendiri, melainkan bangsa Tionghoa (“Berekah nepi kana bedil lodong djeung bedil karbit tea, anoe dipidamelna tina tangkal kawoeng. Oepami hese njieun bedil lodong atawa kawoeng, nja teroes bae meuli pepetasan kangge ngaramekeun teh … anoe oge sanes kaloearan bangsa oerang namoeng … Lauw Kang Boen”).

Dari kutipan itu, saya mendapati tambahan material pembuat bedil karbit, yaitu dari pohon aren atau enau. Dan soal bedil lodong serta bedil karbit yang tergantikan oleh petasan juga tergambar dalam “Kakaren lebaran deui bae” (Sipatahoenan, 1 Desember 1938) dengan konteks kejadian di Kampung Haurkuning, Kuningan, Jawa Barat, yang saat menyambut lebaran terasa sepi sekali.

Begini menurut penulis laporan, “Sepi beh ditoseun sepi, da poegoeh oge di kampoeng, kamodelan tetebiheun teuing, kadjabi ti sora lisoeng, atawa soara embe djeung domba, selang2 sora kongkorongok hajam, moen dihoema, kadenge sora gedokna noe noear atawa meulahan kai, pisoeloeheun” (Sepi lebih dari sepi, sebab memang di kampung, sangat jauh dari gaya, kecuali suara lesung atau suara kambing dan domba, diselingi suara ayam berkokok, bila di ladang, terdengar orang yang memotong atau membelah kayu, untuk kayu bakar).

Ketika hendak berlebaran yang terdengar hanya anak-anak saja menyulut petasan cecengekan yang suaranya terdengar keras, seperti suara bumbung menggunakan karbit (“Ieu oge ngan lamo bae, saoekoer kadenge baroedak tingbeletek njeungeutan pepetasan tjetjengekan haroes toer gede sorana, sora lodong make karbit”).

Meski demikian, lodong atau bumbung bambu masih tetap digunakan penduduk desa atau kampung untuk menyimpan air. Bahkan buat cadangan bila suatu ketika terjadi kebakaran, air dalam bumbung dapat digunakan untuk memadamkannya. Mengenai hal ini saya mendapatkan keterangannya dari berita “Sadia Lodong” yang ditulis AN dalam Sipatahoenan edisi 11 September 1934.

Di situ antara lain AN mengatakan, “Doemeh keur oesoem katiga, gede angin taja hoedjan, di kampoeng-kampoeng geus diparentahkeun sadia lodong dieusi tjai reudjeung bakrik” (Karena sedang musim kemarau, angin besar tiada hujan, di kampung-kampung sudah diperintahkan agar menyediakan bumbung berisi air beserta bakrik). Maksudnya agar bila terjadi kebakaran, ada air untuk memadamkan api. Konon, meski orang-orang menuruti perintah itu, tapi tidak disertai dengan pikiran untuk mengoperasikan bumbungnya.

Sumber, Forum TBM (www.forumtbm.or.id)

Pos Terkait

Menag: Indonesia Best Practice Bangun Dialog Agama dan Peradaban
Yuk Kenali Masjid Ini, Monumen Perjuangan Bilal Masuk Islam
4 Rahasia Dibalik Pemilikan Harta
Yuk Kenali Peta Jalan Zakat 2025 – 2045 Ala Kemenag
Cerita Haji Baridin
Ibadah, Istiqamah dan Haji
Inilah Kriteria Hewan Kurban dalam Hadits dan Pakar Fiqih
Yuk Pahami Manasik, Haji Tidak Sah Bila Jemaah Tinggalkan Salah Satu Rukun Haji

Pos Terkait

Kamis, 11 Juli 2024 - 10:08 WIB

Menag: Indonesia Best Practice Bangun Dialog Agama dan Peradaban

Sabtu, 29 Juni 2024 - 09:36 WIB

Yuk Kenali Masjid Ini, Monumen Perjuangan Bilal Masuk Islam

Jumat, 28 Juni 2024 - 10:32 WIB

4 Rahasia Dibalik Pemilikan Harta

Minggu, 23 Juni 2024 - 16:54 WIB

Yuk Kenali Peta Jalan Zakat 2025 – 2045 Ala Kemenag

Jumat, 21 Juni 2024 - 15:27 WIB

Cerita Haji Baridin

Selasa, 18 Juni 2024 - 12:05 WIB

Ibadah, Istiqamah dan Haji

Sabtu, 15 Juni 2024 - 07:33 WIB

Inilah Kriteria Hewan Kurban dalam Hadits dan Pakar Fiqih

Rabu, 12 Juni 2024 - 07:25 WIB

Yuk Pahami Manasik, Haji Tidak Sah Bila Jemaah Tinggalkan Salah Satu Rukun Haji

Pos Terbaru