6 Contoh Standar Diri Dalam Beragama 

- Editorial Team

Sabtu, 30 September 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Moeflich Hasbullah dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Status pendek saya tentang pemahaman agama yang lebih manusiawi yaitu pentingnya memperhatikan standar diri dalam melaksanakan ajaran Islam, mayoritas komentar salah paham. Apalagi ada kalimat jangan ingin seperti Nabi. Hanya sedikit yang langsung paham dan berkomentar sepakat padahal mungkin bukan ustadz atau aktifis dakwah. Salah paham terjadi sebagai resiko dari pernyataan yang pendek. Walaupun mestinya semua paham, “standar diri” itu beda dengan dan bukan “pilihan.”

Kebanyakan mengartikan “standar diri” sebagai “pilihan.” Maka, harus ikut Nabi bukan pilihan sendiri, harus ittiba’ kepada Nabi, harus Islam kāffah, harus pilih syariat Islam bukan yang lain. Bukan itu maksud yang saya tentang standar diri. Saya memang tak menjelaskan standar diri itu apa, saya pikir semua paham. Menjawab satu-persatu jadi panjang. Disini saya jelaskan lebih jauh dengan contoh²nya.

“Standar diri” itu bukan “pilihan” tapi “batas kemampuan” seseorang. Para sahabat saja tidak sanggup mengikuti ibadah dan akhlaknya seperti Nabi, karena para sahabat bukan Nabi dan tak akan sekualitas Nabi, jadi ya semampunya. Yang penting mencintai Nabi dan berusaha maksimal mencontohnya. Itu standar umatnya. Jadi bukan pilihan ikut Nabi atau tidak. Kalau untuk itu, saya tidak akan pakai istilah “standar diri” tapi “pilih mana.”

Contoh-contoh Standar Diri.

1. Nabi SAW tahajjud setiap malam sampai kakinya bengkak². Kita tidak akan kuat mengikutinya, kita umatnya sekali-sekali saja. Kita ini manusia biasa. Itulah standar diri.

2. Nabi SAW yang maksum dan dijamin masuk surga bahkan pemberi syafaat di akhirat, minimal 100x istighfar setiap hari. Kita yang banyak dosa sering lupa dan tak sanggup begitu. Itulah standar diri kita umatnya, sebisanya saja.

3. Nabi setiap lewat sering diludahi dari atas oleh seorang wanita tua kafir. Ketika si wanita tua itu terdengar sakit, malah Nabi sAW yang pertama menjenguknya sehingga dia tersentuh dan masuk Islam. Kita tak akan sanggup seperti itu, kita manusia biasa. Itulah standar diri.

4. Dakwah Nabi di Thaif malah dilempari batu, mulutnya berdarah dan giginya patah/copot. Bayangkan sakitnya dan pedihnya, niat baik untuk menyelamatkan mereka malah dibalas kejahatan. Jibril menawarkan bantuan untuk mengadzab mereka. Nabi menolak, malah mendo’akan keselamatan bagi mereka: “Allāhummaghfir lahum fa innahum lā ya’lamūn.” (Ya Allah, ampunilah mereka karena mereka berbuat begitu karena tidak tahu!”). Kita tidak akan sanggup begitu. Itulah standar diri kita, umatnya.

5. Nabi beristri sampai 13, buat umatnya maksimal 4. Kita ingin 2 saja sulitnya minta ampun. Kebanyakan tak sanggup. Kita takut pada istri, iman lemah, tak sanggup nikah lagi tanpa istri tahu, tak sanggup menegaskan bahwa ini hak suami, ketahuan sama istri panik menghadapinya, salah cara bisa fatal dan bisa cerai. Kita lemah. Inilah standar diri. Satu istri saja banyak yang gagal mendidiknya agar taat dan takzim pada suami. Bukan salah istri, tapi suaminya yang tak berwibawa di depan istrinya.

6. Dalam ekonomi. Kalau dulu kita pernah sukses dan kaya, dan sekarang menurun biasa saja, jadi orang biasa lagi, banyak yang hilang dan kita stabil disitu, itulah standar diri kita disitu. Dulu segala punya, itu bukan standar kita. Standar kita adalah yang sekarang yang tidak maju-maju lagi tapi kita nyaman menikmatinya.

Itu contoh akhlak, ibadah dan ekonomi. Sekarang ke hukum syariat.

Umat Islam Indonesia pernah menerapkan hukum syariat Islam dalam konstitusi negara di awal kemerdekaan dalam Piagam Jakarta, 22 Juni 1945. Lalu, tujuh kata itu dihapus menjadi Pancasila yang sekarang. Tak ada protes, tak ada yang melawan, tak ada pemberontakan. Semua nerima demi kepentingan duniawi, persatuan Indonesia. Padahal, di akhirat tidak akan pernah ada pertanyaan malaikat tentang persatuan. Padahal, kekhawatiran bangsa akan pecah bila dicantumkan syariat Islam itu belum tentu, hanya ketakutan tak berdasar.

Tapi kita semua menerima sampai sekarang. Mengapa umat Islam mengalah untuk sesuatu yang prinsip dan mendasar? Itulah standar diri kita, umat Islam Indonesia. Hanya segitu mampunya. Sekarang baru terasa, bagaimana negara Pancasila ini dikuasai oligarki dan komunis akan bangkit lagi. Pancasila terlalu terbuka ditafsirkan. Mungkin kalau pelaksanaan syari’at Islam dalam konstitusi dulu dipertahankan, akan lain ceritanya, Indonesia akan lebih berkah dan maju. Ketegangan negara dan umat Islam tidak akan pernah muncul karena aspirasi mendasar mereka dipenuhi. Tapi? Itulah standar diri kita. Kalah dan mengalah mempertahankan prinsip agama.

Yang lebih mutakhir, HTI dan FPI dibubarkan. Secara konstitusional, banyak ahli menyimpulkan itu melanggar konstitusi, melanggar hak rakyat berorganisasi, bersyarikat dan berdemokrasi. Itu inkonsistensi demokrasi. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kalah di pengadilan dan tak bisa apa-apa. Malah banyak umat yang bersyukur. Mereka tak komitmen pada Islam? Bukan. Kita yang gagal mendakwahkannya. Islam masih dihayati menakutkan berarti ada kesalahan di cara menyampaikannya. Tidak ada kesadaran yang lebih tinggi selain instrospeksi. Sebagai agama kebenaran, harusnya Islam itu diterima semua manusia.

Akhirnya, kita hanya bersuara di medsos. Itu salah? Tidak, tapi itulah standar diri. Hanya bisa menulis medsos dengan bahasa yang aman, takut oleh UU ITE alias takut oleh selain Allah. Berdakwah lebih keras takut resiko, banyak yang mencari aman, dicap radikal takut. Itulah standar diri. Seperti Piagam Jakarta, mengalah dan kalah oleh kekuasaan. Umat Islam harus berontak? Silahkan kalau berani. Kalau tak berani itulah standar diri. Tapi, umat Islam itu juga taat perjanjian, taat konstitusi. Intinya hanya itu yang bisa dilakukan, itulah standar diri. Batas maksimal kemampuan.

Allah mewajibkan berhukum dengan hukum/syariat Islam, berhukum qishah, melaksanakan hudud. Umat Islam kan mayoritas, mengapa tidak melaksanakan kewajiban itu? Dosa semuanya? Kafir semuanya? Termasuk kita dong? Bukan. Usaha maksimal sudah dilaksanakan melalui Piagam Jakarta tapi kalah. Itulah standar diri, batas kemampuan. Berusaha dan berjuang terus? Ya iya walaupun tak ada gejala kesadaran syari’at Islam sedang diperjuangkan lagi oleh umat Islam dalam konstitusi atau secara konstitusional. Setiap pemilu saja, partai² Islam selalu kalah akibat tak dipilih oleh kita umatnya. Mau syariat Islam diterapkan dalam negara bagaimana kalau pada pemilu tertarik? Itu artinya semakin menjauhi cita² menerapkan syariat Islam. Tidak ada partai Islam yang memperjuangkan syariat Islam? Asalnya ada, PPP, PKS, PBB, tapi selalu kalah, selalu tak dipilih oleh umatnya sendiri. Akhirnya mereka pun selalu kecil dan merubah orientasinya. Buat apa memperjuangkan tapi suaranya selalu kecil dan tak dapat kursi di pemerintahan dan DPR? Salah siapa? Itulah standar diri umat.

Jadi kesimpulannya, itulah standar diri dalam beragama dalam ibadah, akhlak dan berhukum syariat. Bukan pilih Nabi atau bukan, tapi sebatas kemampuan.

“Asbab wurud” status itu, itu pengamatan lama, banyak di kalangan umat beribadah dan beragama memaksakan diri diluar kemampuannya. Secara etis, itu dilarang agama: “Lā yukallifullāhu nafsa Illa wus’aha.”

فاتقواالله ماستطعتم الدين يسر ووسعة

Bertakwalah sesuai kemampuanmu
Islam itu agama yang mudah dan lapang.

Yang memaksakan diri diluar kemampuannya, hasilnya pasti keganjilan² beragama. Muncullah aliran² sempalan yang aneh, beribadah dengan cara² aneh, yang menyimpang dan full bid’ah, ingin jadi wali atau disebut wali melakukan yang aneh² dst.

Tentu saja, pemahaman standar diri ini bukan untuk melemahkan dan tak perlu turun semangat. Ini untuk menyadari posisi kita sebagai manusia biasa. Dan di maksimal kemampuan itulah kita akan menemukan standar diri sendiri, individu, kelompok dan masyarakat.

Mudah-mudahan menjadi paham. Wallahu a’lam bishawab.***

Pos Terkait

Cinyasag Tempo Dulu: Belajar Semangat Kebangkitan Nasional dari Monumen Panji Siliwangi
Inilah Ranking dan Positioning PTKIN
Benarkah Iblis Bertauhid?
Inilah Doa Pelepasan Jemaah Haji
Islam dan Budaya Lokal
Hasan Mustapa: Sosok Ulama Sunda
Teologi Tulang Rusuk
6 Etika Silaturrahim

Pos Terkait

Selasa, 21 Mei 2024 - 08:53 WIB

Cinyasag Tempo Dulu: Belajar Semangat Kebangkitan Nasional dari Monumen Panji Siliwangi

Senin, 20 Mei 2024 - 14:37 WIB

Inilah Ranking dan Positioning PTKIN

Jumat, 17 Mei 2024 - 11:40 WIB

Benarkah Iblis Bertauhid?

Selasa, 14 Mei 2024 - 08:48 WIB

Inilah Doa Pelepasan Jemaah Haji

Jumat, 3 Mei 2024 - 15:30 WIB

Islam dan Budaya Lokal

Sabtu, 27 April 2024 - 15:14 WIB

Hasan Mustapa: Sosok Ulama Sunda

Selasa, 23 April 2024 - 16:28 WIB

Teologi Tulang Rusuk

Kamis, 18 April 2024 - 07:30 WIB

6 Etika Silaturrahim

Pos Terbaru