Menu

Mode Gelap

Hikmah · 13 Jan 2023 ·

Kedzaliman, Penyakit dan Penyembuhan


 Kedzaliman, Penyakit dan Penyembuhan Perbesar

 

Oleh Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Banyak orang, tanpa sadar, menyakiti orang lain, menganiaya bahkan mendzalimi, lalu kemudian hidupnya menghadapi masalah rumit, hidupnya tak berkah, kedudukannya jatuh dan menderita penyakit berat. Tak sadar bahwa masalah dan penyakitnya itu bukan soal fisiknya tapi dari perilakunya pada orang lain.

“Wattaqi da’watal madzlūmi, fainnahu laisa baynaha wa baynallah hijābun” (Waspadalah terhadap doa orang yang didzalimi. Sungguh tidak ada jarak/penghalang antara dia dan Allah). (HR.Bukhari Muslim)

Sekali dia mengangkat tangannya berdo’a kepada Allah, apalagi dengan diiringi air mata dari rasa sakit dan kepedihannya dianiaya, Rasulullah SAW menegaskan: “Doa orang yang terdzalimi naik ke atas awan, dibukakan untuknya pintu langit, maka Tuhan-pun berkata: Dengan kemuliaaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, walaupun tak langsung saat itu saat dia berdo’a.”

Biasanya, rintihan kepedihan itu dikeluhkan dan dipanjatkan kepada Allah saat sendirian: “Sesungguhnya do’a seorang Muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab.” (HR. Muslim).

Begitu maha adilnya Allah, semua adalah makhluk-Nya, bahkan bila yang terdzalimi itu orang kafir. Dan begitu adilnya Allah, jangankan hanya mengkritik, protes atau demostrasi, berbuat buruk pun orang teraniaya dan terdzalimi itu dimaklumi: “Allah tidak menyukai perbuatan buruk yang diucapkan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang didzalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui” (QS. An-Nisa: 148).

Yang lebih dahsyat, bila yang disakiti atau didzalimi itu, tanpa dia sadar, adalah seorang wali Allah. Ini lebih mustajab lagi. Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, ‘Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya …” (HR. Bukhari). Bayangkan perang dengan Allah!!

Mereka yang berbuat dzalim dan aniaya itu, banyak yang merasa sebagai Muslim yang baik, punya jabatan, orang berpengaruh, kadang-kadang dia menasehati orang, sering keluar ayat dan hadits dari mulutnya, tapi perilakunya ada yang menyakiti seseorang yang tidak sadar itu siapa. Biasanya demi persaingan politik, dari ketegaannya atau tak ada rasa kasihannya pada orang lain.

Bagaimana menyembuhkan kejatuhannya atau penyakit yang dideritanya?

Menyembuhkan akibat, yaitu kejatuhan diri atau penyakit yang diderita orang yang tanpa sadar berbuat dzalim, bukan hanya dengan istighfar, banyak dzikir, membaca do’a ini itu, tahajud tengah malam, minta do’a disembuhkan pada orang lain, atau hanya orang-orang mendo’akannya dengan rupa-rupa do’a formal di medsos atau di grup wa dengan “syafakallah” atau semoga cepat sembuh lagi dll. Bukan!! Bukan hanya itu.

Ratusan orang pun mendo’akannya, apalagi hanya do’a formal dan ikut-ikutan copas do’a, alias tak dari hati, tapi tanpa dirinya sadar apa penyebabnya, tanpa introspeksi, ya tak akan sembuh-sembuh. Apalagi bila dirinya merasa benar dan tak melakukan kesalahan pada orang lain, itu pasti akan semakin memperparah penyakitnya.

Satu-satunya cara menyembuhkan sakit parah dari kedzaliman tak terasa, adalah minta nasehat pada orang yang bisa membuka apa kesalahannya pada orang lain (bukan nasehat umum), lalu dia mencari orang yang dianiayanya, meminta maaf dengan sungguh-sungguh, dari lubuk hati yang terdalam untuk dimaafkan.

Ciri kesungguhan minta maafnya, gejala psikologisnya, adalah tetesan air mata keluar membasahi pipinya sebagai kesadarannya telah berbuat salah, menyakiti dan menganiaya orang. Bila masih ada penjelasan dan bela diri, berarti mohon maafnya belum kaffah.

Bagaimana mengetahui orang yang telah disakitinya?

Sekali lagi, minta nasehat, tanya pada orang-orang dekatnya, yang hatinya bersih, yang tidak pura-pura, yang jujur, yang apa adanya. Bila dia mantan pejabat, tanya pada bawahan²nya, mungkin pernah ada yang pernah tersakiti saat dia jadi pejabat atau pemimpin. Panggil orang-orang yang kemungkinan atau dia merasa telah menyakitinya, sadar tidak sadar.

Hanya itu yang harus dilakukan bila benar-benar orang yang pernah menyakiti dan menganiaya orang, ingin menyembuhkan penyakit beratnya dan ingin membersihkan dosa-dosanya sebelum ajal menjemputnya dan tak menyesal di yaumul hisab.*** Wallahu a’lam.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Editorial Team

Baca Lainnya

Rezeki Sehat

8 Februari 2023 - 08:45

5 Cara Menjaga Persahabatan

25 Januari 2023 - 07:30

Sebaik baik Sedekah

23 Desember 2022 - 13:56

Selamat Jalan Zi!

5 April 2022 - 23:05

Bulan Penguatan Tauhid

4 April 2022 - 10:08

Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya

17 Maret 2022 - 16:40

Trending di Hikmah