Yuk Kenali Veri Verdiansyah, Mengakrabkan Santri dengan Lingkungan

- Editorial Team

Selasa, 4 April 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Mayoritas orang mungkin berpikir ngaji melulu identik dengan lembaran-lembaran kitab suci. Tapi Veri Verdiansyah berpandangan lain. Lebih dari sekadar telaah atas teks al-Qur’an, menurutnya ngaji juga bisa berarti bertani, beternak, atau kegiatan sejenis yang mendekatan diri dengan lingkungan masyarakat dan alam sekitar.

Pola pikir ini pula yang ia terapkan pada santri-santrinya di Madrasah Diniyah Takmiliyah Sirojul Falah, sebuah lembaga pendidikan Islam nonformal yang terletak di kaki Gunung Salak, hanya sekitar 25 meter dari tempat tinggalnya di Kampung Cikadu, Desa Sukatani, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Madrasah yang berdiri sejak 1936 atas swadaya masyarakat itu hinggap di atas tanah perbukitan. Lahan di belakangnya ditumbuhi ratusan pohon sengon yang tinggi menjulang. Kebun teh berkembang sehat di sisi barat. Jika berdiri di pintu madrasah, akan tampak hamparan bukit-bukit, hutan, dan pemandangan Gunung Salak.

Pimpinan madrasah meminta Veri mengajar tafsir al-Qur’an di sana. Tapi Veri tak ingin hanya di kelas. Para santri kerap pula diajaknya bergiat di kebun, bercengkrama dengan warga, juga berwirausaha. Ada program pemberdayaan yang sedang ia perjuangkan: gerakan infaq pohon.

Pulang Kampung

Veri tak bercita-cita menjadi pengajar. Kehidupanya pun diwarnai dunia aktivisme. Sejak masih kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia aktif di Desantara, lembaga sosial yang memiliki minat terhadap isu penguatan komunitas (khususnya dari kelompok minoritas), yang terkait isu multikultural dan lingkungan. Dia terlibat dalam penerbitan Newsletter.

Usai lulus pada tahun 2004, aktivitas Veri lebih banyak tercurah di P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat). Agak berbeda dari sebelumnya, organisasi nirlaba ini fokus dan memiliki basis pada komunitas pesantren. Dunia ini cukup akrab bagi Veri.

Sebelum menempuh studi di kampus, ia terlebih dahulu mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al-Kholiliyah, lalu Pesantren Pesantren Sunanul Huda. Keduanya berlokasi di Sukabumi.

Di P3M ia aktif hingga tahun 2010, selebihnya tugas ia lakukan secara freelance karena harus mondar-mandir antara Sukabumi dan Jakarta, hingga akhirnya keluar sama sekali. Di titik inilah, Veri mulai berpikir untuk kembali ke kampung halaman. Veri sempat kurang mantab dengan keputusannya. “Bagaimana ya, saya kan sudah ke sana kemari dan akrab dengan ‘aktivitas gaya kota’, tapi tiba-tiba balik ke kampung. Tak sedikit teman-teman saya yang menganggap ini adalah sebuah kemunduran,” tuturnya.

Tapi semangatnya kembali bangkit. Nurfud Binarto, pimpinan Radio Jakarta News FM, tempat Veri aktif setelah dari P3M, mendorongnya pulang ke Sukabumi memenuhi tanggung jawab sebagai aktivis di kampung sendiri.

“Sudahlah tidak usah dulu ngomong yang tinggi-tinggi; soal demokrasi, HAM, peradaban. Itu makanan orang-orang Eropa. Selesaikan dulu WC-WC tetanggamu,” pesan seniornya itu yang masih melekat di pikirannya.

Veri paham, “larangan” berbicara muluk-muluk adalah sebuah kritikan terhadap aktivis yang banyak terlena di dunia teori dan sering menyelesaikan masalah sebatas di meja-meja diskusi. Persoalan WC adalah cermin masih rendahnya kesejahteraan masyarakat, sehingga bahkan untuk urusan sanitasi saja belum beres.

Ia pun bertekad pulang dan menetap di Kampung Cikadu. Veri butuh beradaptasi di daerah yang sudah lama ia tinggalkan. Mengajar ngaji menjadi pembuka bagi dirinya menapaki kembali suasana desa setelah mendapat tawaran mengajar dari pihak madrasah diniyah setempat.

Tawaran itu ia terima dengan mantab. Hal itu karena nasihat salah seorang gurunya masih membekas kuat di benaknya. Mama Ajengan Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab, guru yang ia maksud, dalam sebuah pengajian pernah bertutur, “Sesibuk apapun, sekaya apapun, sehebat apapun, nanti kamu harus tetap mengajar, barang satu sejam, baik dalam sehari, seminggu atau sebulan.”

Veri mengaku periode awal pulang kampung ia jalani dengan berat. Tantangan terbesar adalah menjaga stabilitas hidup, khususnya dari segi ekonomi. Ia mesti meniti dari awal tentang sumber mata pencaharian, apalagi ia tak lagi hidup sendirian setelah 2012 menikah kemudian dikaruniai seorang anak.

Pria berdarah Sunda ini sejak awal tak mau memakan gaji sebagai guru ngaji di Madrasah Diniyah Takmiliyah Sirojul Falah. Selain mengajar adalah amanat gurunya, dirinya menganggap masih beruntung secara ekonomi dibanding guru-guru lain yang tak memiliki pekerjaan tetap.

“Enggak tega saja. Gajinya cuma 50.000 per bulan. Lagi pula, saya mengajar orientasinya memang bukan untuk meteri,” ujar Veri.

Veri pelan-pelan sangat menikmati aktivitasnya di kampung. Untuk memenuhi hajat hidupnya, sehari-hari ia bertani dan beternak domba. Kepuasan batin menjadi guru ngaji bertambah ketika ia bisa berbagi pengalaman dan membantu memberdayakan masyarakat sekitar. Di kampungnya, Veri merintis untuk warga, antara lain kooperasi, sistem pertanian organik, pembuatan saus pepaya, dan lain-lain.

Mengaji Alam

Cara mengajar Veri memang agak keluar dari alur pendidikan madrasah diniyah kebanyakan. Di kelas ia memang mengajar tafsir Juz ’Amma. Dalam hal ini tak ada yang mengejutkan. Ayat al-Qur’an ia baca, lalu ia terjemahkan menggunakan bahasa Sunda. Yang unik adalah cara ia mengaitkan ayat al-Qur’an dengan fenomena lingkungan sekitar, dan berlanjut ke pembelajaran di luar kelas.

Kini Veri sedang berusaha menyukseskan gerakan infaq pohon. Gerakan ini ia rintis sebagai bagian dari pendidikan bersedekah dalam diri santri melalui penanaman pohon sengon di pekarangan mereka masing-masing. Investasi pohon sengon dinilai cukup menjanjikan hanya dalam jangka waktu 5-6 tahun.

Durasi enam tahun secara kebetulan adalah masa belajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Sirojul Falah. Artinya, bila santri kelas 1 madrasah diniyah mulai menanam pohon sengon, maka saat lulus mereka bisa menebang pohon tersebut untuk dijual dan sebagian disisihkan untuk kas madrasah. Pohon lain yang bisa diberdayakan adalah jenjeng dan jabon.

“Setiap santri dikasih lima pohon. Kalau ada 20-30 murid sudah ada 100-150 pohon. Harga per pohon Rp 400-500 ribu. Sudah kebayang puluhan juta bakal didapatkan. Para santri juga bisa belajar infaq sejak dini,” kata Veri.

Selain mengajari santri bersahabat dengan alam, Veri yakin kesuksesan gerakan ini adalah masa depan cerah bagi kemandirian ekonomi madrasah. Dia prihatin, ada guru madrasah—karena tak memiliki penghasilan tetap—secara terpaksa mengandalkan gaji mengajar. Bahkan sampai pinjam uang kas, sehingga tiap tahun mesti terlilit utang kepada madrasah tepat ia mengabdi.

Prospek budidaya pohon sengon menggiurkan sebab pohon bernama latin albizia chinensis ini memiliki manfaat besar di bagian daun, akar, dan terutama batangnya. Kayu sengon biasa digunakan untuk produk kayu olahan seperti papan, batang korek api, perahu, pensil, dan lain-lain. Kayu ini juga sukar diserang rayap tanah karena mengandung zat ekstraktif di dalamnya.

Selain melatih santri berwiausaha di sekor pihon sengon, Veri juga mengajari mereka berdialog dengan masyarakat. Diberilah tugas anak didiknya itu untuk mendata jenis makanan dan sayuran yang warga konsumsi sehari-hari, binatang ternak, pohon-pohon di sekitar, dan lain- lain. Dari sini, Veri sanggup menghimpun basis data warga, termasuk menganalisis tingkat perekonomian mereka.

“Santri setingkat madrasah diniyah jelas belum menangkap sejauh itu. Cuma mereka senang dan belajar mewawancarai warga, mengakrabi lingkungan mereka,” ujarnya.

**

Veri juga mengenalkan anak didiknya itu tentang kepemilikan tanah di wilayah Sukabumi. Banyak tanah di kota ini yang tidak dalam penguasaan warga. Di Sukabumi ada perusahaan besar air mineral, gas bumi, dan perkebunan milik BUMN. Semua memiliki dampak merugikan bagi kondisi alam setempat. “Dulu di desa ini (Sukatani) lima bulan kemarau air tak sampai kering, tapi sekarang setelah perusahaan air mineral itu berdiri, dua bulan kemarau warga sudah kelimpungan cari air,” terang Veri.

Pria kelahiran 2 Februari 1980 ini memang giat menanamkan nilai-nilai kedaulatan ekonomi dan pangan kepada para santrinya meski sebatas penjelasan menurut ukuran akal anak-anak. Hal yang sama juga ia lakukan kepada penduduk setempat. Langkahnya kian tegak ketika ia pada tahun 2013 didaulat sebagai ketua Pengurus Cabang Lembaga Pengembangan Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPPNU).

Melalui lembaga itu, ia menggerakkan pemuda Sukabumi di dunia pertanian. Selain produksi beras organik, belakangan ia melatih pemuda dari seluruh kecamatan di Sukabumi untuk bergerak di bidang bisnis pepaya. Hanya dalam dua pelatihan saja, mereka sudah bisa mengolah pepaya menjadi saus, kripik, shampo, akarnya menjadi semacam kopi, daunnya bisa diseduh seperti teh, getahnya bisa untuk tepung.

Terkait gairah mengaji, Veri beruntung berada di kawasan masyarakat dengan minat pendidikan Islam yang tinggi. Kampung Cikudu bisa dikatakan “kampung santri”. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa anak-anak di sana harus dididik di pesantren, atau minimal madrasah diniyah. Melanggar hukum tak tertulis ini bisa berakibat terkucilkan di masyarakat.

Namun ada tantangan yang cukup sukar diatasi Veri, yakni perubahan karakter dan mental mayoritas penduduk. Beberapa usaha pemberdayaannya, seperti kooperasi dan pinjaman modal sering gagal di tengah jalan karena masyarakat ingin mendapatkan kesuksesan secara kilat. Kebutuhan konsumtif sering lebih diutamakan ketimbang rintisan bagi usaha produktif.

“Termasuk penanaman pohon sengon itu. Kalau mental dan karakternya masih begitu ya akan menjadi hambatan bagi kelancaran program ini hingga tuntas. Tapi pelan-pelan kita berusaha atasi,” tuturnya. (Mahbib Khoiron0

====

Artikel liputan ini pertama kali dimuat dalam buku “Mendidik Tanpa Pamrih. Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam” (Jakarta: Kemenag RI, 2015).

Pos Terkait

Menag: Imlek Nasional Bukti Kepedulian Pemerintah kepada Umat Khonghucu
AICIS 2024: Saatnya Memotret Inisiatif Bangun Perdamaian
Begini Cerita Ajeng, Lakon ‘Weton’ Juara Festival Film Moderasi Beragama 2023
Inilah Sunan Gunung Jati, Raja yang Suka Blusukan dalam Berdakwah
Yuk Kenali Abdul Karim: Mengisi Kekosongan Pendidikan Agama
Yuk Kenali Ismail Asso: Mendirikan Pesantren di Atas Tanah Bapak Pendeta
Yuk Kenali Mak Ajay Salmi: Mengajar dengan Keterbatasan Penglihatan
Luar Biasa! Pengabdian Abu Yazid Al-Busthami pada Ibunya

Pos Terkait

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:12 WIB

Menag: Imlek Nasional Bukti Kepedulian Pemerintah kepada Umat Khonghucu

Rabu, 31 Januari 2024 - 22:12 WIB

AICIS 2024: Saatnya Memotret Inisiatif Bangun Perdamaian

Jumat, 5 Januari 2024 - 08:45 WIB

Begini Cerita Ajeng, Lakon ‘Weton’ Juara Festival Film Moderasi Beragama 2023

Rabu, 3 Januari 2024 - 16:07 WIB

Inilah Sunan Gunung Jati, Raja yang Suka Blusukan dalam Berdakwah

Minggu, 31 Desember 2023 - 07:19 WIB

Yuk Kenali Abdul Karim: Mengisi Kekosongan Pendidikan Agama

Jumat, 29 Desember 2023 - 17:13 WIB

Yuk Kenali Ismail Asso: Mendirikan Pesantren di Atas Tanah Bapak Pendeta

Rabu, 27 Desember 2023 - 17:08 WIB

Yuk Kenali Mak Ajay Salmi: Mengajar dengan Keterbatasan Penglihatan

Selasa, 26 Desember 2023 - 17:01 WIB

Luar Biasa! Pengabdian Abu Yazid Al-Busthami pada Ibunya

Pos Terbaru

Reliji

Ingat! Sidang Isbat Awal Ramadan Digelar 10 Maret 2024

Senin, 19 Feb 2024 - 23:42 WIB

Hikmah

Isra Mikraj, Komitmen Keimanan dan Kesalehan Sosial

Minggu, 11 Feb 2024 - 10:02 WIB