The Kabayan of Tao

- Editorial Team

Rabu, 7 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof Bambang Q-Anees, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Ketua Lakpesdam PWNU Jabar

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Cottleston, Cottleston, Cottleston Pie
Seekor lalat (fly) tidak bisa menjadi burung (bird)
Tapi seekor burung (bird) bisa terbang (fly)
Berikan teka-teki dan aku akan menjawab
Cottleston, Cottleston, Cottleston Pie

​​​​Benjamin Hoff, seorang sarjana Seni Asia asal Amerika, menulis bahwa kebijaksanaan falsafah hidup tidak hanya berasal dari Timur (Cina, Jepang atau India), tapi ada juga yang berasal dari Barat. Di antaranya bisa ditemukan dari kehidupan Winnie The Pooh, seekor beruang kecil tokoh fiksi dongeng kanak-kanak. Karena itu ia mengajak Winnie The Pooh untuk menunjukkan bahwa peradaban Barat memiliki falsafah hidup setenang Tao. Hoff ingin menunjukkan bahwa kiat untuk tetap hidup bahagia dan tenang dalam situasi dan kondisi apapun bisa dirujuk dari kisah Winnie The Pooh.

Di antaranya dalam lagu yang kerap disenandungkan Winnie di atas, Seekor lalat (fly) tidak bisa menjadi burung (bird)/ Tapi seekor burung (bird) bisa terbang (fly). Isi lagu itu terkesan main-main dan tidak serius. Namun ia mengandung kebijaksanaan hidup, yaitu sebuah prinsip yang bisa mensyukuri apapun yang dimiliki sehingga tidak memaksakan diri menjadi sesuatu yang berbeda. Seekor lalat tentu tidak bisa burung, tapi biarlah tak usah dipersoalkan, toh lalat juga bisa terbang seperti juga burung.

Ini barangkali sepele, namun banyak dari kita yang terjebak karena, misalnya, berusaha untuk memaksakan tongkat persegi ke lubang bundar; mengabaikan realitas demi memaksakan suatu kehendak. Padahal setiap memiliki tempat dan fungsinya sendiri, maka tak ada yang salah dan disesali. Dalam kisah yang ditulis Chuang-tse (salah seorang Guru Tao) ada kisah keluhan seseorang terhadap apa yang dimiliki. Orang itu mengeluhkan pohon miliknya yang tidak bisa dijadikan apapun: terlalu bengkok, keras, dan tidak bertekstur. Lalu Chuang-tse berkata, “Kau mengeluhkan bahwa pohonmu tidak berharga sebagai kayu. Padahal kamu bisa manfaatkan kerindangannyaÖPohon itu tidak berguna karena kamu ingin menjadikannya sesuatu yang lain dan tidak menggunakannya sepatutnya.”

Maka, walaupun lalat bukan burung, biarlah; toh lalat juga bisa terbang. Tentu saja ini prinsip sederhana, namun kita sering mengeluhkan pekerjaan kita, istri kita, budaya kita, dan seterusnya. Keluhan terjadi karena kita terjebak dalam perbandingan silau, lalu memaksa diri untuk meraih apa yang dimiliki orang lain.

Begitulah Hoff membenum Winnie The Pooh sebagai salah satu tokoh Tao. Terlebih lagi, kata Hoff, salah satu prinsip Tao berbunyi sama dengan ujaran pooh. Prinsip yang dimaksud adalah p’u (jika diucapkan berbunyi puuh dengan u pendek), kayu tanpa pahatan. P’u adalah bahwa segala sesuatu di dalam kebersahajaan mereka yang asli mengandung kekuatan alam mereka sendiri, kekuatan yang mudah dikotori dan hilang bila kebersahajaan itu diubah. Dan isi nyanyi si Winnie di atas adalah cara bersyukur pada keberadaan asali suatu hal, yang dengan demikian si Winnie tidak akan mengubah kebersahajaan asali suatu hal dan itu berarti kekuatannya akan tetap bisa dinikmati.
Benjamin Hoff hanyalah salah satu ilmuwan yang mengambil Tao sebagai kerangka kebijaksanaan hidup. Fritjof Capra, Ilmuwan Fisika, menggunakan prinsip wu wei Tao untuk mengemukakan titik balik peradaban sebagai efek dari pengabsolutian satu kutub pemahaman. Padahal dalam prinsip wu wei suatu hal selalu berwujud ketika mengharmonikan hal-hal yang bertentangan: positif dan negatif, im dan yang. Dan peradaban Barat bagi Capra mengalami penurunan karena mengabsolutkan rasionalitas sembari menafikan spiritualitas, padahal keduanya adalah realitas. Ilmuwan lain adalah Sachiko Murata. Ia menyusun sebuah buku yang menerangkan prinsip-prinsip tasawuf dalam kerangka Tao. Baginya, dengan cara ini banyak kalangan bisa lebih tertarik pada ajaran tasawuf.

The Tao of Sunda
Membaca semua itu, ada sebuah pertanyaan yang mendesak untuk dijawab. Bagaimana dengan kebijaksanaan hidup Sunda? Setiap hal, mengikuti formulasi Aristoteles, selalu terdiri dari bentuk/kerangka (form) dan isi (matter). Seperti ungkapan Hoff the Tao of Pooh, The Tao adalah form-nya, sedang Pooh adalah matter yang dikerangkai oleh Taois. Pengkerangkaan ini didasarkan pada kesadaran bahwa Tao memiliki kerangka falsafah yang ajeg dan cerdas, namun isinya tidak hanya dimiliki oleh Tao. Isinya dimiliki juga oleh si Winnie Boneka Beruang. Karena itu Hoff meminjam kerangka Tao untuk memuliakan apa yang menjadi isi dalam cerita Winnie The Pooh.

Nah, kembali pada pertanyaan tadi: bagaimana dengan kebijaksanaan hidup Sunda? Apakah Sunda masih memiliki sejumlah materi budaya yang bisa dikerangkai oleh budaya lain? Atau bahkan Sunda memiliki kerangka yang lebih hebat sehingga bisa mengkerangkai budaya lain?

Jika mengamati prinsip p’u tadi, atau dongeng Chuang-tzu, tentu kita semua teringat pada filosofi orang Kanekes di perkampungan Baduy sana. Bagi mereka nu pondok tong disambung, nu panjang tong dipotong, yang sama maknanya dengan memberi penghargaan pada realitas apa adanya. Seperti konsep p’u yang menginginkan pemuliaan terhadap realitas karena segala apapun dalam kebersahajaannya memiliki makna dan manfaat. Jadi secara matter budaya Sunda ada beberapa kesamaan dengan Tao, ini bisa menjadi modal untuk menyusun The Tao of Baduy, The Tao of Lutungkasarung, The Tao of Mundinglaya, dst.

Namun ada soal dalam renteten the Tao of…, yaitu bahwa budaya sunda dianggap sebagai sifat dari kaerifan Tao. Renteten the Tao of… itu bisa berarti Tao-nya Baduy, Tao-nya si Lurungkasarung, Taonya si Mundinglaya, dst. Tao jadi substansi universal yang dianggap dimiliki oleh banyak pernik kebudayaan lain (di luar tempat asalnya) termasuk juga Sunda (jika kita juga menamakannya demikian). Lalau kalau demikian apa untungnya? Hoff dan Winnie The Pooh barangkali punya jawabannya. Kira-kira Hoff mengalami suatu situasi di mana masyarakat Amerika Serikat kecanduan banyak ajaran dari Timur, terutama Tao. Bahkan Hoff sendiri menjadi salah seorang pemburu ajaran Tao. Sebagai orang asli Amerika Serikat, ia merasakan kejanggalan: apakah selalu harus dari Timur? Hoff juga khawatir orang di negerinya akan tidak lagi memiliki kebanggaan pada tradisinya. Untuk itu ia menulis: prinsip-prinsip Tao itu sejaklama sudah dimiliki oleh si Winnie The Pooh. Dengan cara itu Hoff melakukan resistensi, menegosiasikan apa yang dimiliki dengan budaya dominan yang masuk ke dalam wilayah budayanya.

Orang Sunda tentu pernah melakukan hal yang sama. Paling tidak kita pernah bergumam bahwa “kalau cuma seperti itu, dalam budaya Sunda juga ada.” Hanya saja, kita tak pernah sempat merumuskannya secara serius membahasakannya dengan struktur yang memadai. Akhirnya kita terjebak menjadi sekumpulan orang latah,sekadar memberi gema pada suara yang datang dari luar. Apa yang dilakukan Hoff, Murata, atau Capra lebih dari menggumamkan gema. Mereka bernegosiasi dan kemudian meobjektivasikan bentuk baru yang mewadahi apa yang baru (baca: asing) sekaligus memuliakan tradisi lama di tempat sejajar.

Budaya Sunda tentu membutuhkan strategi itu, terutama jika masih ingin bertahan di tengah serangan banyak budaya lain. Sebenarnya hal ini tidak istimewa, karena setiap orang secara otomatis melakukan resistensi terhadap apapun yang masuk ke dalam dirinya. Seperti pada saat kita makan, nasi dan lauk pauk sebagai barang baru bagi tubuh tidak begitu saja ditelan, namun secara otomatis harus melalui pengunyahan yang berulang-ulang. Jika badan biologis kita saja sanggup melakukan negosiasi, tentu badan ruhaniah kita lebih sanggup melakukan negosiasi. Jadi tidak begitu istimewa, semua orang bisa melakukan. Siapa saja.

The Kabayan of Tao, mungkinkah?
Pengkerangkaan budaya Sunda dengan budaya lain dalam format the X of….. adalah upaya untuk mewartakan keluhuran budaya Sunda dalam kerangka yang sedang trend dan dominan. Langkah ini cukup strategis, namun masih dalam taraf pembuka. Maksud saya, budaya Sunda tidak bisa terus-menerus menjadi aksiden dari substansi budaya lain. Seperti konsep p’u yang mengisyaratkan bahwa setiap sesuatu pada dasarnya memiliki kemakanaan dan kemanfaatannya sendiri jika ia masih berada dalam kebersahajaannya, maka budaya Sunda juga mesti memiliki kearifan luhur tertentu. Dengan asumsi tersebut, maka format the X of Sunda hanyalah langkah awal, sebelum kita menemukan kerangka substansial sendiri. Setelah kita menemukan kerangka substansial sendiri, kita bisa menjadi subjek dari negosiasi. Pada saat itulah kita budaya lain menuliskan The Sunda of Physic,The Sunda of Pooh, The Sunda of Islam, dst.

Namun semua impian itu membutuhkan penguasaan yang cukup memadai mengenai budaya Sunda dan apa yang hendak dinegosiasikan. Tanpa penguasaan yang penuh terhadap keduanya, negosiasi akan terjebak dalam kirata (dikira-kira namun dianggap sebagai nyata, kebenaran faktual).

Sebagai sebuah contoh kita bisa mulai dari Kabayan. Ia dikenal oleh banyak orang Sunda sebagai tokoh ketawa. Kabayan mungkin tidak berniat untuk ketawa atau ditertawai, namun ketika kita membacanya apapun yang dilakukan memancing tawa yang tak tertahankan. Kabayan tentu tokoh fiksi, ia barangkali diciptakan untuk menghibur atau sebagai tokoh yang menyampaikan filosofi hidup orang Sunda. Sebagai tokoh penyampai pesan, ia berfungsi sebagai metafor: menyampaikan sekaligus mereduksi pesan. Misalnya, Kabayan yang diceritakan terlalu banyak tidur tidak berarti bahwa ia menyenangi itu, barangkali ia sedang menjadi cermin yang menyindir perilaku kebanyakan orang Sunda.

Terlepas dari konsepsi Kabayan sebagai metafor, ketawalah yang menjadi inti dari sosok Kabayan. Dalam Kitab Tao Te Ching ditemukan sebuah ungkapan yang bisa jadi umpan bagi negosiasi antara Kabayan dan Tao. Dalamkitab itu ada petikan kalimat, “Jika tidak tertawa, tak akan cukup untuk menjadi Tao.” Kalimat ini berkaitan dengan konsep pencerahan dalam Tao. Pencerahan adalah pemahaman mendadak, pemahaman yang datang begitu saja dengan cepat (immediate insight) dan tertawa adalah penemuan kepahaman akan suatu lelucon secara begitu cepat. Pada saat kita ketawa kita seperti menemukan rantai kebenaran yang selamaini terlepas. Kabayan memainkan dirinya sebagai pemancing ketawa demi pencerahan tertentu.

Kesamaan itu bisa menjadi bahan awal untuk merumuskan The Tao of Kabayan. Selanjutnya kita bisa membaliknya menjadi The Kabayan of Tao, jika kita sanggup menstrukturkan seluruh kronik dari kehidupan kabayan menjadi kerangka yang ajeg dan teruji. The Kabayan of Tao tentu masih dalam impian, yang kelak akan teraih jika kita sudah secara perlahan melakukan proses negosiasi budaya terhadap apapun yang baru.

The Kabayan of Tao? Tergantung pada kita semua.

Sumber, Kolom Prof Bambang di Nu Jabar

Pos Terkait

6 Etika Silaturrahim
Mudik ke Cianjur
Dari Bandung untuk Dunia
Saatnya Kenali Serba-serbi Publikasi Ilmiah Mahasiswa
RAMADAN DI TATAR SUNDA (8) : Peringatan Turun Wahyu
RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Tarawih dan Tadarus
Suatu Hari Bersama Sekelompok Sufi
RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Pakansi Puasa

Pos Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 07:30 WIB

6 Etika Silaturrahim

Selasa, 9 April 2024 - 13:25 WIB

Mudik ke Cianjur

Senin, 8 April 2024 - 23:04 WIB

Dari Bandung untuk Dunia

Minggu, 7 April 2024 - 13:19 WIB

Saatnya Kenali Serba-serbi Publikasi Ilmiah Mahasiswa

Sabtu, 30 Maret 2024 - 07:30 WIB

RAMADAN DI TATAR SUNDA (8) : Peringatan Turun Wahyu

Senin, 25 Maret 2024 - 09:48 WIB

RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Tarawih dan Tadarus

Minggu, 24 Maret 2024 - 09:34 WIB

Suatu Hari Bersama Sekelompok Sufi

Kamis, 21 Maret 2024 - 12:05 WIB

RAMADAN DI TATAR SUNDA (7) : Pakansi Puasa

Pos Terbaru

Reliji

5 Nilai Orang Bertakwa Pasca Idul Fitri

Jumat, 19 Apr 2024 - 09:45 WIB

Nulis

6 Etika Silaturrahim

Kamis, 18 Apr 2024 - 07:30 WIB