Santri Itu Murid

- Editorial Team

Selasa, 24 Oktober 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

SUNANGUNUNGDJATI.COM – Santri itu murid. Dengan begitu ia adalah pembelajar. Seperti yang konon disebutkan dalam pengertiannya, ia berasal dari bahasa Sansekerta, “shastri” atau “cantrik”. Seorang yang menekuni, bertungkuslumus dan mengetahui kitab suci dan beruswah pada jalan guru.

“Innata idea” atau “khitah” santri memang berporos pada dua hal itu. Pemahaman juga wawasan pengetahuannya berjejak pada kitab suci dan laku hidupnya berkiblat pada ucap dan tindakan pembimbingnya, kyai, guru atau mursyid.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berjejak pada kitab suci adalah kepastian bahkan keharusan tapi pemahaman dan pengetahuannya tak boleh didaku sebagai kebenaran yang sudah final. Seumpama cermin besar dan menjadi mercusuar satu-satunya di sisi laut yang menerangi lajunya kapal.

Dalam peradaban yang kian cepat berubah. Ketika kehidupan mengalami disrupsi yang meniscayakan ketidakpastian. Ketika sains dan tekhnologi ikut membentuk watak dan sifat manusia, sikap mendaku diri sebagai yang paling benar akan disisihkan dan tidak akan memiliki tempat.

Berlapang dada pada yang berbeda akan menjadi energi yang bisa terus menghidupkan. Karena memang sejatinya kehidupan dan sejarah tak disokong oleh satu pengertian dan dituntaskan oleh satu-satunya definisi. Keberanekaan itulah hidup. Ketaksamaan itulah prinsip dasar kenyataan.

Santri yang tumbuh dalam peradaban yang berubah adalah dia yang tidak meniadakan bahkan mematikan kemungkinan-kemungkinan lain dalam membaca dan mengambil saripati yang berasal dari kitab suci.

Agama bukanlah bangunan teori yang beku dan kaku. Kitab suci bukanlah sekadar monumen sejarah yang tak boleh disentuh oleh cara pandang yang berbeda dan tak sama.

Santri sebagai pembelajar yang menginsyafi perubahan adalah dia yang mampu berpikir kreatif, memiliki energi dalam mengembangkan “critical thinking”, bersedia untuk berkolaborasi dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Komunikasi yang baik bukan melulu keterampilan, keakuratan dan ketepatan menyampaikan pikiran dan gagasan. Komunikasi adalah juga soal dan kesanggupan untuk mendengar dan memahami yang “tak terkatakan” dari lawan bicara. Dengan itu, komunikasi adalah juga menyangkut kepekaan, simpati, empati dan bela rasa. Selamat hari Santri Nasional. Allahu a’lam[]

 

Pos Terkait

Inilah Makam Sunan Gunung Jati dan Tradisi Panjang Jimat Saat Maulid Nabi
Yuk Jajal Kuliner Gunung Jati Cirebon, Sambil Ziarah Makam Wali
Agama dan Kejahilan
Meneladani Kepemimpinan Rasulullah
Qodarullah
Kisah Hidup Nabi berdasarkan Sumber Klasik
Gus Yaqut : Indonesia Jadi Kompas Toleransi di Dunia
Yuk Liburan di Cirebon, 5 Tempat Instagramable yang Bisa Dikunjungi

Pos Terkait

Minggu, 3 September 2023 - 08:33 WIB

5 Resep Empal Genton yang Nampol. Coba Buat Yuk!

Jumat, 11 Agustus 2023 - 20:05 WIB

Eksyar UIN Sunan Gunung Djati Lakukan Pendampingan 100 Sertifikasi Halal Gratis

Minggu, 6 Agustus 2023 - 15:00 WIB

Yuk Berburu Kuliner Nusantara di Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza

Minggu, 9 Juli 2023 - 08:27 WIB

Yuk, Wisata Ke Gunung Manglayang! Inilah 4 Jalur Menuju Puncaknya

Sabtu, 18 Maret 2023 - 21:47 WIB

Pentingnya Paralegal dalam Memberikan Bantuan Hukum

Minggu, 12 Februari 2023 - 14:35 WIB

Begini Cara Membangun Branding Lembaga Ala Bakmi Jowo Mbah Gito

Sabtu, 4 Februari 2023 - 12:32 WIB

Top! Petaling Jaya Malaysia Sanjung Industri Kreatif Kota Bandung

Senin, 9 Januari 2023 - 10:39 WIB

Dorong Jiwa Wirausaha, UIN Bandung Adakan Seminar dan Workshop Tanaman Hias Bonsai

Pos Terbaru

Nulis

Sunan Gunung Jati, Pandita Ratu

Rabu, 6 Des 2023 - 11:40 WIB

Umum

Populer di Pantura, Yuk Kenali Musik Tarling

Selasa, 5 Des 2023 - 11:29 WIB

News

Profil dan Sejarah Cirebon

Senin, 4 Des 2023 - 11:27 WIB