Mamaleman dan Jajabur

- Editorial Team

Minggu, 9 April 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Atep Kurnia, Pengurus Pusat Forum TBM Divisi Litbang

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Haji Hasan Mustapa (Bab Adat-Adat Oerang Priangan djeung Oerang Soenda lian ti eta, 1913: 130) mengadakan pada bulan Ramadan ada malam yang dilebihkan daripada malam lainnya. Itulah malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, ke-29. Pada malam-malam itu, lazimnya, orang-orang saat sore menjelang buka ada yang saling kirim makanan, terutama kepada lebai, kepada sesespuh-sesepuh, meski sepiring, apalagi kepada orang yang tadarus di masjid. Tetapi [di Tatar Sunda] tidak ada adat berkumpul jadi satu kumpulan seperti di Tanah Jawa.

Ini teks Sundanya, “Dina boelan Poeasa aja peuting noe dileuwihkeun ti noe sedjen, nja eta: malem salikoer, tiloe likoer, salawe, toedioeh likoer, salapan likoer; koedoe bae dina sorena memeh boeka pasoeliwer anoe sili kirim kadaharan, pangperloena ka lebe, ka kolot2, sanadjan sapiring, soemawonna ka noe tadaroes di masigit. Henteu aja adat diramekeun dikoempoelkeun soepaja djadi sakoempoelan tjara di tanah Djawa”.

Sebelumnya Hasan Mustapa (1913: 129) menyatakan, orang Sunda mempunyai kebiasaan berkumpul sehabis tadarus dan menikmati hidangan yang disebut jajabur, yaitu penganan berupa kue-kue, penganan manis, kiriman dari ahli-ahli masjid (“Sanggeus tadaroes toeloej ngopi ngarioeng noe diseboet djadjaboer, hartina kadaharan koeeh, amis2, kiriman ti imah ti sabatoer kaoem sapantesna”). Bahkan dulunya bahkan ada ketentuan dari potongan yang akan dibagikan kepada khalayak. Tapi kemudian setelah diketahui oleh pemerintah kolonial dan mendapatkan sindiran, pemotongan tersebut dihentikan.

Hal senada diungkap oleh penulis anonim dalam Poesaka Soenda No. 12 (Juni 1924: 184-188), dengan tajuk tulisan “Lebaran”. Ia antara lain menyatakan enam rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan lebaran, yakni mamaleman, poean meuncit (tanggal 30 Ramadan), mawakeun jeung pakean weuteuh, sodor senenan, nadran atau ngembang, dan lebaran Syawal atau riyaya kupat (tanggal 8 Syawal).

Untuk mamaleman, ia mengatakan “Unggal malem likoeran gangsal, koedoe bae dileuwihkeun ti biasa. Raang sarerea njareungeut damar di tepas, di boeroean, malah aja noe di kebon nanaon. Anoe baroga mah merloekeun njadiakeun kadaharan keur hadjat, atawa anteurkeuneun ka masdjid atawa tadjoeg” (Setiap malam tanggal 20-an ganjil, harus dilebihkan dari biasanya. Orang-orang menyulut pelita di serambi, di pekarangan, bahkan ada yang di kebun segala. Bagi orang berpunya memerlukan untuk menyediakan makanan kenduri atau untuk dikirimkan ke masjid atau langgar).

Sebagai tambahan, penulis artikel menambahkan bahwa “Baheula di kota-kota menak-menak sok bagilir malemna. Malem salikur di panghoeloe, tiloe likoer di kapatihan, malem salawe di kaboepaten, sareng saladjengna. Ngan sanggeus nindak djaman tigerat, eta adat ditoenda koerang pakeunna, meureun” (Dulu di kota-kota para bangsawan kerap bergilir malamnya. Malam ke-21 di rumah penghulu, malam ke-23 di rumah patih, malam ke-25 di kabupaten, dan seterusnya. Hanya setelah masuk zaman krisis, adat tersebut ditunda, barangkali karena kekurangan modalnya).

Selain itu, pada artikel tersebut juga, termaktub niatan mengapa harus mengadakan mamaleman. Menurut penulis mamaleman itu, “Ilahar dieunteupkeunana ajeuna kana megat laelatoel-kadar, hadjatna diidjabkeun ka Hasan-Hoesen djeung ka para sahabat noe opat” (Biasanya diterapkan sekarang untuk menanti datangnya Lailatul Kadar, kendurinya diijabkan kepada Hasan-Husein dan para sahabat yang empat).

Ternyata tulisan “Lebaran” dari penulis anonim di atas kemudian dimuat-sambung dua kali pemuatan dalam Sipatahoenan edisi 4 dan 6 Januari 1934. Tajuknya masih sama, “Lebaran”.

Mamaleman disebut juga lilikuran. Istilah tersebut mengacu kepada malam-malam ganjil terhitung dari malam ke-21 berpuasa hingga berakhir pada malem takbiran. Untuk menyambut mamaleman, masjid yang sebelumnya ceurik menta eusi dan cakueum menjadi lebih meriah. Dindingnya dikapur. Halamannya disiangi. Demikian pula lampu-lampu minyak dipasang orang dipasangi orang di rumah, di halaman, bahkan di kebun sekalipun.

Hal ini sesuai juga dengan pernyataan Haryoto Kunto (Ramadhan di Priangan, 1996), bahwa mamaleman merupakan puncaknya pesta lampu dan oncor. Mereka membuat lampion dengan berbagai bentuk. Ada yang berbentuk bintang, kapal api, persegi, buah-buahan, ikan-ikanan. Bahkan di antara mereka saling bersaing.

Kian hari-hari berganti, beduk kian difungsikan. Frekuensi orang yang ngadulag semakin sering. Bahkan beduk pulalah yang menandai masuknya mamaleman. Sedari pagi orang menabuh beduk, memberi tahu bahwa nanti malam masuk malem salikur. Bahkan di kalangan pesantren ketika menjelang mamaleman suka ditabuh dulag lilikuran: dulag salikur, tilu likur, salawe, tujuh likur, dst. Cara menabuhnya tentu berbeda-beda. Di pesantren pun sering pula ada lomba ngadulag.

Sementara di mata anak-anak, mamaleman adalah saat-saat untuk menunjukkan kebanggaannya berupa petasan dan pakaian baru untuk lebaran. Kalau di antara anak-anak ada telah membeli petasan untuk mamaleman atau lebaran, oleh teman-temannya akan dilihat-lihat, ditanya harga, kemudian banyak yang meniru membeli membeli banyak-banyak. Yang paling banyak merasa bangga.

Hal tersebut upamanya dapat kita baca dari buku Roesdi djeung Misnem (1911, 1930: 61). Di situ disebutkan bahwa saat-saat paling seru ketika bulan Ramadan adalah pada waktu malam-malam 20-an ganjil (“Pangrame-ramena dina boelan Poeasa, dina waktoe mamaleman”) dan pada tanggal 27 puasa setelah asar, beduk ditabuh di masjid (“Tanggal 27 bada asar, doelag di masigit neregteg doeloeg-doegdag, doeloeg-doegdag”).

Demikian pula Si Inen dalam Sudagar Batik (1980, 2004: 53-54) karya Ahmad Bakri. Pada malam-malam ganjil itu, ia kerap menagih kepada ibunya untuk berbelanja ke pasar, untuk membeli petasan dan baju baru. Menjelang malam ke-21, digambarkan “Dulag di masigit geus ngadurdur ti isuk keneh, ngabejaan engke peuting malem salikur. Si Inen geus pok deui, pok deui nanyakeun iraha rek ka pasar” (Beduk di masjid terus ditabuh sedari pagi, memberitahu bahwa nanti malam adalah malam ke-21. Si Inen sudah bertanya-tanya lagi kapan akan pergi ke pasar).

Sumber, Forum TBM (www.forumtbm.or.id)

Pos Terkait

Saatnya Muliakan Bulan Dzulqa’dah, Perbanyak Amal Shalih
Yuk Kenali Gelang dan Kartu Identitas Jemaah Haji Indonesia
Ini Fungsi Jemaah Haji Dapat Smart Card di Makkah. Simak baik-baik Ya!
4 Keutamaan Bulan Dzulqa’dah Penuh Berkah
Saatnya Mengenali Masjid Muhammad Cheng Hoo: Monumen Eksistensi Muslim Tionghoa di Indonesia
Begini Hukum Perempuan Pergi Haji tanpa Mahram, Bolehkah?
Tingkatkan Keimanan, 5 Masjid di Cirebon yang Kerap Dikunjungi Wisatawan
Saatnya Mengenali Masjid Tan Kok Liong: Manifesto Perjalanan Anton Medan

Pos Terkait

Minggu, 26 Mei 2024 - 10:57 WIB

Saatnya Muliakan Bulan Dzulqa’dah, Perbanyak Amal Shalih

Jumat, 24 Mei 2024 - 07:30 WIB

Ini Fungsi Jemaah Haji Dapat Smart Card di Makkah. Simak baik-baik Ya!

Jumat, 10 Mei 2024 - 11:12 WIB

4 Keutamaan Bulan Dzulqa’dah Penuh Berkah

Senin, 6 Mei 2024 - 15:06 WIB

Saatnya Mengenali Masjid Muhammad Cheng Hoo: Monumen Eksistensi Muslim Tionghoa di Indonesia

Rabu, 1 Mei 2024 - 14:22 WIB

Begini Hukum Perempuan Pergi Haji tanpa Mahram, Bolehkah?

Selasa, 30 April 2024 - 14:48 WIB

Tingkatkan Keimanan, 5 Masjid di Cirebon yang Kerap Dikunjungi Wisatawan

Senin, 29 April 2024 - 15:20 WIB

Saatnya Mengenali Masjid Tan Kok Liong: Manifesto Perjalanan Anton Medan

Jumat, 26 April 2024 - 14:58 WIB

Saatnya Mengenali Masjid Agung Sang Ciptarasa

Pos Terbaru