Iri pada Kebaikan

SUNANGUNUNGDJATI.COM– Menjelang terjadinya perang Tabuk, Rasulullah SAW menyerukan untuk bersedekah kepada para sahabat sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Umar bin Khattab RA merenung, setiap saat Abu Bakar RA selalu membelanjakan hartanya di jalan Allah lebih banyak darinya. Ia pun pulang dan mengambil harta yang akan disedekahkan dengan rasa gembira dan menyangka bahwa yang diberikannya lebih banyak dari Abu Bakar.

Ternyata, apa yang Abu Bakar berikan lebih banyak lagi darinya. Demikianlah para sahabat selalu berlomba dalam kebaikan, bersaing dalam berjuang mendukung kejayaan Islam.

Dari kisah itu, hendaknya kita iri pada mereka yang menebar kesalehan. Lalu berusaha untuk berlomba dalam kebaikan. Siapakah yang patut menjadi sumber keirian? Kepada mereka yang mengamalkan Alquran dan manusia dermawan yang selalu berbagi sepanjang kehidupan.

“Tidak boleh beriri hati kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang diberi Allah ilmu Alquran, lalu dilaksanakannya sepanjang malam dan siang hari, dan seorang yang dianugerahi harta banyak, lalu diinfakkan sepanjang malam dan siang hari.” (HR Muslim).

Demikianlah, Rasulullah SAW mengingatkan perlunya terus-menerus meningkatkan kualitas dan kuantitas beramal saleh. Lihatlah ke atas agar ada upaya untuk memperbaiki kebajikan harian. Terus bertambah dan semakin banyak saudara dan tetangga yang ikut merasakan. Tak ada ruang untuk berleha-leha, apalagi berpuas diri dengan menghitung kebaikan diri.

Mendapatkan anugerah ilmu Alquran dan mengamalkannya dalam keseharian adalah keistimewaan. Demikian pula dengan keluasan rezeki dan semangat berbagi.

“Allah menganugerahkan hikmah (kepahaman yang dalam tentang Alquran dan sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang yang berakal.” (QS al-Baqarah: 269).

Hikmah dapat dipahami sebagai ilmu yang mendorong manusia untuk bekerja dan berkarya. Hikmah itu menuntun pada kebahagian sejati. Berusahalah dan memintalah kepada Yang Maha Rahman.

Sebagaimana diteladankan Nabi Ibrahim AS. “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS asy-Syu’ara: 83).

Kebaikan diri tak untuk diingat, biarkan dengan segenap ketulusan benar-benar menjadi catatan kesalehan. Bahkan, tangan kiri pun tak perlu tahu, ketika tangan kanan membuat saudara kita yang membutuhkan tersenyum bahagia dan merasa haru.

Buatlah keluarga, rekan kerja, saudara, dan tetangga merasa aman dan nyaman bersama kita. Teruslah mengumpulkan seolah belum pernah menunaikan. Manusia tidak pernah tahu mana yang benar-benar diterima Tuhan. Biarlah itu urusan Yang Maha Rahman. Tugas kita tiada henti menebar kemanfaatan, seolah tak akan ada lagi waktu untuk menunaikan.
Wallaahu a’lam.

IU RUSLIANA, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, 8 Februari 2022

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button