Ibadahnya Hamba Bersyukur

SUNANGUNUNGDJATI.COM – Allah ialah Zat yang Maha Menciptakan; semua yang ada di alam semesta ini, baik benda sekecil atom hingga sebesar galaksi antariksa merupakan hasil ciptaan-Nya. Kita sebagai makhluk-Nya juga merupakan ciptaan Allah.

Sekali-kali, Allah tidaklah menciptakan manusia dengan percuma, bersenda gurau dan tanpa tujuan. Karenanya, dibalik penciptaan kita di muka bumi ini pastilah terdapat maksud dan tujuan. Allah Swt., berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun [23]: 115).

Alangkah indah dan nikmatnya seorang hamba yang hidup sesuai dengan kehendak Allah; ia akan mendapatkan kenikmatan dunia, ketenteraman hati, dan keselamatan di akhirat.

Lantas, apa tujuan hidup dalam penciptaan manusia? Allah Swt., berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku,” (QS. Adh-Dhariyat [51]: 56).

Melalui ayat ini, sejak awal Allah telah menghendaki agar kita sebagai makhluk-Nya untuk senantiasa beribadah di muka bumi ini. Sehingga risalah-risalah yang Dia turunkan kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril dalam rangka menununtun kita beribadah kepada-Nya. Dengan beribadah, maka sesungguhnya kita telah menapaki jalan yang lapang, penuh dengan kebaikan, berkah, dan jalan menuju keselamatan di dunia dan akhirat.

Hati yang terikat dengan iman, terpaut dengan keagungan, dan tersentuh dengan hidayah dari Allah, akan senantiasa terpanggil untuk beribadah kepada-Nya.

Ada sebuah kisah teladan datang dari Rasulullah Saw. Aisyah ra menuturkan bahwa Nabi Saw. senantiasa bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud hingga kedua kaki beliau bengkak.

Kemudian Aisyah ra bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat seperti itu? Bukankah Allah Swt. telah mengampuni seluruh dosamu, baik dosa masa lalu maupun dosa di masa mendatang?”

Beliau menjawab, “Apakah tidak sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim).

Alangkah mulianya Rasulullah Saw., beliau meski telah dijamin masuk surga dan diampuni seluruh dosanya, karena beliau ialah manusia maksum yang terjamin keselamatannya, tetapi hal itu tidak membuat beliau malas beribadah kepada Allah.

Oleh karenanya, menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk meneladani semangat dan tata cara ibadah Rasulullah Saw. Karena ittiba’ atau meneladani Rasulullah merupakan bentuk kecintaan kita kepada beliau, dan dengan mencintai beliau; kita juga berarti mencintai Allah. Dengan meneladani Nabi Muhammad Saw., maka kita telah mengamalkan bentuk berakhlak kepada beliau, sekaligus juga menjadi bentuk keimanan kita kepada kenabian beliau.

Banyak sekali hal-hal yang dapat kita teladani dari sosok Muhammad Saw., mulai dari akhlaknya, budi pekerti, tingkah laku, dan yang terpenting adalah ibadah beliau. Allah Swt., berfirman, “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalannya” (QS. Al An’am [6]: 153). Wallahua’lam Bishshawwab

SUKRON ABDILAH, Founder sunangunungdjati.com

Artikel Ini dipublikasikan di rubrik Hikmah Republika Edisi Kamis, 20-01-2022

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button