Haji dan Umrah untuk Tahun Terbaik

SUNANGUNUNGDJATI.COM – Dalam perjalan bertamu dan bertemu Allah di Baitullah, selalu saja ada “suara di ruang jiwa” yang lirih berbisik, menyapa sekaligus bertanya, “kebaikan apa yang telah kau himpun sebagai bekal pulang?”. Atas hal itu, dalam narasi para ulama disimpulkan, haji yang mabrur dan umrah yang makbul ditandai dengan produktivitas kebaikan yang menjadi warna kehidupan.

Perjalanan waktu dari mulai detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga tahun, adalah area sekaligus arena untuk berlomba dalam kebaikan. Perpindahan pagi, siang, sore menuju malam. Fajar, subuh, syuruq, hingga duha. Dzuhur, asar, gharb, maghrib hingga isya, adalah fenomena alam sekaligus lokus untuk produksi, reproduksi dan distribusi kebaikan.

Bagi mereka yang hajinya mabrur dan umrahnya maqbul, esensi hidup adalah optimalisasi ruang dan waktu bukan sekedar untuk “ada” (being) dan “berada” (belonging), melainkan untuk “mengada” (becoming). Dalam spirit mengada, perputaran waktu tidak akan dilalui begitu saja. Tetapi menjadi kesempatan berharga untuk melakukan muhasabah, yakni perjalanan ke dalam diri (inner journey), untuk melakukan introspeksi, kemudian dengan penuh kejujuran intelektual bertanya, “apa yang telah dipersiapkan untuk sukses hidup kini dan nanti?”.

Dalam Q.S Al-Hasyr ayat 18, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Muhasabah niscaya dilakukan, agar kebaikan senantiasa hadir dan keberuntungan berada dalam genggaman. Imam al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya ‘Ulumuddin,  menulis sebuah hadits yang diriwayatkan Abdul Aziz bin Rawwad. Ia berkata, “Aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW, Aku berkata, ‘wahai Rasulullah, berilah wasiat untuku?’. Rasul kemudian berkata, “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama seperti hari kemarin, maka ia orang rugi. Dan siapa saja yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia adalah orang celaka.”

Dalam spirit hadits ini, kebaikan, sebagaimana dihajatkan dan diwasiatkan dalam ritual ibadah haji dan umarah merupakan hal yang niscaya. Lalu siapakah manusia terbaik itu?. Diintrodusir dari beberapa hadits shahih, setidaknya ada lima.

Pertama, dari Aisyah RA berkata: “Rasulullah SAW berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi).

Kedua, suatu Ketika seorang Arab Baduy bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia terbaik itu?” Beliau menjawab: “mereka yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi).

Ketiga, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruqutni). Keempat, Abu Hurairah ra meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (Mutafaqun Alaih). Dan Kelima, “Sebaik-baik kalian adalah yang gemar berbagi makanan.” (HR. Imam Ahmad).

Dalam seluruh rangkaian ibadah haji dan umrah, setiap Jemaah dihajatkan bahkan diwasiatkan untuk produktif berbuat baik. Produktivitas kebaikan adalah resolusi untuk meraih keuntungan dan kemenangan dalam setiap ruang dan waktu. Untuk tahun baru 2022, Lima kebaikan yang diintrodusir dari pesan Nabi di atas bisa menjadi resolusi. Selamat mencoba, anda pasti beruntung.

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Khusus dan Umrah Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button