Al-Quran: Teks, Konteks, dan Penafsir

SUNANGUNUNGDJATI.COM – Membaca dan mengkhatamkan Al-Quran terutama di bulan Ramadan akan mendapatkan kemulian dan pahala yang berlimpat ganda. Namun, tidak hanya membaca dan mengkhatamkan Al-Quran semata, melainkan perlu memahami isinya dengan belajar kepada ulama supaya kandungan dalam Al-Quran bisa dipahami serta ditransformasikan dalam kehidupan.

Semua sepakat dan menyakini bahwa Al-Quran adalah Kitabullah yang di dalamnya banyak mengandung pesan-pesan moral untuk kemaslahatan umat manusia. Al-Quran merupakan sumber teologi Islam. Di samping itu, Al-Quran adalah sebagai sumber utama Rahmatulil alamin.

Al-Quran bukan benda mati yang hanya dibaca ketika ada orang meninggal dunia termasuk dibaca hanya pada bulan Ramadan saja bahkan tidak sedikit yang khatam Al-Quran karena membaca Al-Quran mendapatkan pahala yang berlimpah. Saya percaya membaca Al-Quran merupakan salah satu bentuk komunikasi antara seorang hamba dengan Allah, tetapi persoalaanya bukan sampai pada titik membaca lantas selesai.

Al-Quran perlu digali, dianalisis, dan diinterpretasikan makna yang terkandung dalam Al-Quran. Interpretasi Al-Quran bisa selaras dengan dinamika kehidupan yang terus berjalan. Interpretasi Al-Quran harus terus dilakukan. Tafsir Al-Quran harus terus bergerak dan tidak boleh terhenti karena peradaban terus berjalan dengan cepat.

Perpaduan antara teks, konteks, dan penafsir itu akan meniscayakan hasil penafsiran apa pun akan selalu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosio historis, geopolotik, dan latar belakang keilmuaan penafsir serta kepentingan penafsir.

Kita mengetahui bahwa tidak ada satu pun penafsir yang bebas dari kepentingan. Semua penafsir akan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi serta keilmuaan yang dimiliki penafsir ketika menafsirkan Al-Quran.

Lantas ada yang bertanya, siapa yang disebut penafsir yang bagus? Saya katakan, penafsiran bukan persoalan bagus atau tidak bagus. Yang paling penting penafsirannya memiliki dampak positif terhadap keberlangsungan hidup orang banyak dan memiliki syarat menjadi mufasir serta memahami ilmu bahasa Arab dan menguasai kaidah-kaidah tafsir.

Di situlah pentingnya metodologi tafsir seperti pernah diungkapkan oleh Fazlur Rahman bahwa seorang mufasir harus memahami makna autentik ayat dengan cara memahami sosio historis masa lalu sewaktu diturunkannya ayat-ayat tersebut lalu dikontekstualisasikan makna autentik ayat itu dengan masa kini. Inilah metode double movent yang digunakan Fazlur Rahman, seorang pemikir modernis dari Pakistan.

Hal ini dilakukan supaya penafsir tidak terlepas dari nilai nilai etik dasar yang menjadi ruh dari ideal metafisis ayat-ayat ketika diangkut atau dibawa ke dalam realitas kehidupan masa kini. Supaya tidak menjadi liar dan sekuler, penafsir harus mampu membangun sisi pragmatis fungsionalnya.

Tafsir harus bisa dijadikan dasar fundamental kehidupan sekarang. Maka dalam kajian tafsir dikenal Asbabun Nuzul dan Nasikh Mansukh. Al-Quran akan semakin hidup ketika terus-menerus digali karena hakikatnya wahyu sakralitas harus mampu diterjemahkan dalam kehidupan. Al-Quran harus diinterpretasikan untuk kepentingan peradaban umat manusia.

Mamat Muhammad Bajri, M.Ag., Ketua Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Muhajirin Purwakarta

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button