5 Etika Muslim yang Sedang Meningkatkan Keimanannya

- Editorial Team

Jumat, 10 Maret 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

SUNANGUNUNGDJATI.COM

Sedang berusaha meningkat keimanan dan kesadaran sebagai Muslim yang berkualitas? Inilah 5 etikanya yang harus diperhatikan.

1. Hikmat pada Kata
2. Khidmat pada Ilmu Saja
3. Nikmat pada Rasa
4. Manfaat pada Harta
5. Nasehat pada Agama

(Ilmu Hikmah Lima)
___________

1. Hikmat pada Kata
(Etika pembicaraan/obrolan)

Dalam berbicara berusaha yang bermanfaat, yang mengandung hikmah dan berbobot. Kata-kata yang dikeluarkan dipikirkan dahulu, tidak sembarang bicara, asal bunyi, asal ucap, mempertimbangkan baik buruknya, manfaat tidaknya, maslahat tidaknya, efektif tidaknya sebelum berbicara. Sikap seperti ini namanya “hikmah pada kata.”

Ciri-ciri orang yang berkhidmat pada kata-kata ada 5:

Pertama, kata-kata yang diucapkannya muncul dari hati yang bersih. Kedua, kalimatnya benar dan susunan pembicaraannya tertib. Ketiga, isi pembicaraannya berbobot dan berkualitas. Keempat, arah dan sasaran pembicaraannya jelas, kepada siapa diarahkan dan untuk siapa ditujukan. Kelima, pembicarannya sesuai dengan yang diharapkan, sesuai dengan yang direncanakan, relevan dan tepat.

2. Khidmat pada Ilmu Saja
(Khidmat pada orang karena ilmunya, bukan yang lain)

Kita hormat dan takdzim dalam sebuah perbincangan dengan seseorang karena ilmunya bukan pada orangnya atau kedudukannya sebagaimana pesan Rasulullah SAW: “Undhur mâ qâla, walâ tandhur man qâla!” (Lihatlah apa yang dibicarakan (isinya), bukan melihat siapa yang berbicara!). Ini untuk membangun sikap obyektif pada orang. Orang buruk atau jahat pun, bila bicara baik dan benar, kita dengarkan pembicaraannya. Sikap ini agak sulit terutama bila kita tahu aslinya orang yang berbicara, atau kualitas hidup kesehariannya yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan sikapnya.

Ciri orang yang “berkhidmat pada ilmu” ini juga ada 5:

Pertama, ilmu yang dipelajari dan didapatkannya adalah ilmu yang bermanfaat.
Kedua, ketika ilmu itu dijelaskan atau diajarkan kepada orang lain sudah diamalkan terlebih dulu oleh dirinya sendiri.
Ketiga, melakukan amar ma’ruf nahi munkar harus pakai ilmu, bukan rasa, bukan emosi, bukan kebencian, bukan ada kepentingan diri.
Keempat, melihat pembicaraan orang dari segi ilmu, memakai ilmu, bukan rasa.
Kelima, bila berbicara sesuai dengan konteksnya yang tepat.

3. Nikmat pada Rasa
(Etika sikap tentang kenikmatan)

Kalau kita tidak merasa nikmat tentang sesuatu, jangan diungkapkan oleh mulut atau kata-kata. Tidak perlu. Makanya, Rasulullah SAW mengajarkan jangan suka mencela makanan, makan makanan yang disukai, tidak perlu mencela yang tidak suka. Hindarilah mengomel dan ngomong yang tidak perlu. Kalaupun mau diungkapkan, usahakan ungkapkanlah ketidaknikmatan itu dengan ungkapan yang konstruktif bukan menghukumi dan penyesalan.

Ciri orang yang merasakan nikmat pada rasa ada 5:

Pertama, ikuti apa yang diinginkan oleh tubuh. Biasakan berdialog dengan tubuh, dengarkan melalui kepekaan rasa, ikuti bisikan tubuh menginginkan apa.
Kedua, ikuti kecenderungan rasa pada saat sebuah peristiwa berlangsung. Contoh sederhana, tiba-tiba ingin pindah tempat duduk, mau pergi tiba-tiba malas, keraguan mau pergi ke sebuah tempat. Dengan membiasakan mengikuti bisikan rasa, intuisi akan menjadi hidup dan terlatih menjadi kuat.
Ketiga, jika kita menolak sebuah pemberian orang kepada kita jangan memakai dasar pikiran tapi pakai rasa.
Keempat, dalam mengkonsumsi makanan, carilah nikmatnya, bukan mewahnya dan jenis makanannya.
Kelima, biasakan merasakan sesuatu yang dirasakan orang lain yang disebut empati.

4. Manfaat pada Harta
(Etika sikap tentang harta)

Seorang Muslim melihat harta itu pada manfaatnya bukan pada banyaknya, mahalnya, gengsinya. Harta itu dimiliki untuk dirasakan manfaatnya, bukan untuk ditumpuk-tumpuk, dibanggakan, dibicarakan, dibahas panjang lebar, dipamerkan dan dihitung-hitung menjadi kebanggaan dan kesombongan.

Ciri sikap manfaat pada harta ada 5:

Pertama, hartanya itu digunakan sesuai dengan tuntunan syari’at agama yaitu dibayarkan zakatnya, infaqnya, shadaqahnya.
Kedua, hartanya itu dimiliki dan digunakan sesuai dengan kapasitasnya yang tepat.
Ketiga, menggunakan harta dengan cara dan distribusinya yang tepat. Harta baru akan bermanfaat bila kewajiban terhadap keluarga, saudara, fakir miskin, tetangga dan sahabat, sudah terpenuhi.
Keempat, manfaat pada harta akan dirasakan bila sudah memenuhi kebutuhan sahabat-sahabat dekat.
Kelima, beramal atau penggunaan harta usahakan dalam peristiwa yang berkesan, menyentuh, memunculkan kesadaran orang yang menerima.

5. Nasehat pada Agama
(Etika sikap pada agama)

Seorang Muslim harus menempatkan fungsi agama lebih sebagai nasehat ketimbang pengetahuan semata, pemikiran, diskusi, wawasan dan lain-lain.

Ciri ketika kita menggunakan agama sebagai nasehat ada 5 hal yang harus diperhatikan:

Pertama, nasehat itu diberikan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang agar hidupnya menjadi lebih baik.
Kedua, hindari memberikan nasehat dalam masalah fiqh. Fiqh itu bukan untuk dinasehatkan melainkan dipraktekkan.
Ketiga, nasehat diberikan harus sesuai dengan kapasitas, kondisi, status dan kualitas orang yang dinasehati.
Keempat, jika sedang menerima nasehat, masukan dan simpan ke dalam hati jangan direspon oleh pikiran.
Kelima, dalam menasehati, hindari teks-teks Al-Qur’an secara langsung. Bila harus mengutip Al-Qur’an, uraikan maknanya saja, tidak usah bunyi ayatnya, nanti menjadi ceramah yang verbalistis.***
___________

Pengajian Ahad Subuh, Masjid Adz-Dzikra, Puri Cipageran 2, Cimahi, Bandung Barat. Materi: “5 Etika Muslim yang Sedang Meningkatkan Keimanannya.” November 2022.

Pos Terkait

Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Syawal 1445 H 9 April 2024
Pesan Wamenag: Al-Qur’an Pedoman Bangun Peradaban Maju dan Bermartabat
Nuzulul Quran, Saatnya Introspeksi Diri
Kenapa Allah Merahasiakan Turunnya Malam Lailatul Qadar? Inilah Penjelasannya
Puasa: Syariat, Tarekat, Hakikat
4 Keistimewaan Bulan Ramadhan
7 Hikmah Shalat Menghadap Kiblat
Bagaimana Hukum Mendirikan Shalat Tahajud tapi Belum Tidur, Sahkah?

Pos Terkait

Selasa, 2 April 2024 - 13:45 WIB

Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Syawal 1445 H 9 April 2024

Senin, 1 April 2024 - 14:56 WIB

Pesan Wamenag: Al-Qur’an Pedoman Bangun Peradaban Maju dan Bermartabat

Jumat, 29 Maret 2024 - 07:30 WIB

Nuzulul Quran, Saatnya Introspeksi Diri

Selasa, 26 Maret 2024 - 09:27 WIB

Kenapa Allah Merahasiakan Turunnya Malam Lailatul Qadar? Inilah Penjelasannya

Senin, 18 Maret 2024 - 08:13 WIB

Puasa: Syariat, Tarekat, Hakikat

Jumat, 15 Maret 2024 - 08:00 WIB

4 Keistimewaan Bulan Ramadhan

Jumat, 8 Maret 2024 - 14:28 WIB

7 Hikmah Shalat Menghadap Kiblat

Senin, 26 Februari 2024 - 12:23 WIB

Bagaimana Hukum Mendirikan Shalat Tahajud tapi Belum Tidur, Sahkah?

Pos Terbaru